- Pokok-pokok Teori Dalam hal ini Freud menggambarkan kepribadian manusia melalui konsep terstruktur mental(psyche) dan struktur kepribadian.
a.
Struktur mental
Struktur mental terdiri atas 3
tingkat kesadaran, yakni
1)
Kesadaran, menunjuk pada apa yang sedang
kita persepsi(rasakan, pikirkan dan amati). Atau dengan kata lain kesadadran
itu merupakan suatu komponen superego yang berisikan perilaku-perilaku yang
mendapatkan hukuman. Misalnya, ketika kita merasakan adanya sensasi kontraksi
dalam perut kita, kita mengatakan,” wah saya lapar nih !” jadi apa yang kita
rasakan itu merupakan bentuk kesadaran kita.
2)
Ambang sadar, berisikan ingatan-ingatan
tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang siap masuk ke dalam kesadaran
sewaktu-waktu diperlukan. Misalnya jika seseorang bertanya kepada kita tentang
nomer telepon rumah atau telepon seluler kita, hanya demgan sedikit upaya kita
akan segera mampu untuk mengingat dan kemudian menjawab pertanyaan tersebut.
Itu karena ingatan kita tentang nomer telepon kita berada diambang sadar.
3)
Ketidaksadaran, ditamsilkan sebagai
suatu gudang dan imej-imej yang tak dapat diterima(ditolak oleh norma atau kode
moral tertentu), peristiwa masa lampau, impuls-impuls dan keinginan-keinginan
yang tidak kita sadari. Atau dengan kata lain ketidaksadaran itu merupakan
aspek psikis( mental) yang menyimpan dorongan-dorongan yang tidak terpenuhi dan
menjadi kompleks terdesak.
b.
Struktur kepribadian
Struktur
kepribadian terdiri dari 3 aspek yakni:
1) Id
merupakan
suatu struktur yang kita bawa sejak lahir da berisikan semua potensi bawaan,
termasuk naluri-naluri yang umumnya tidak kita sadari. Id merupakan sumber
energi aktifitas psikis dan fisik , dan energi ini diperoleh dari tubuh.
Di dalam id terdapat
dorongan-dorongan instinktif (naluriah) yang cenderung primitif dan menimbulkan
ketegangan karena menuntut untuk
dipuaskan/dipenuhi.
Dorongan naluriah dibedakan
menjadi 2 yakni:
a)
Naluriah hidup (libido) → nafsu
seks
b)
Naluriah mati atau merusak
(tanatos) → agresi
Untuk memuaskan atau memenuhi dorongan-dorongan, id
menggunakan 2 mekanisme yakni:
a)
Tindakan
refleks(tindakan-tindakan otomatis)
→ mengedipkan mata, batuk menarik tangan ketika menyentuh benda panas.
b)
Proses primer ( tindakan
kompleks)
→
impian, khayalan, lamuna atau fantasi
2) Ego
adalah
aspek kepribadian yang beada didalam kesadaran. Atau ego merupakan aspek
rasional dari kepribadian yang bertanggung jawab untuk mengarahkan dan
mengendalikan instink atau dorongan-dorongan. Ia berfungsi untuk membantu id
memenuhi dorongan-dorongannya secara nyata dan bukan hanya sekedar membayangkan
atau melamun. Misalnya ketika anak mulai dipisahkan dengan ibunya (jawa =
disapih).
Dapat
dikatakan ego merupakan aspek eksekutif (pengendali atau pengatur) dari
struktur kepribadian.
merupakam
aspek kepribadian yang berisikan nilai-nilai atau kode moral masyarakat yang
diinternalisasikan oleh anak melalui pendidikan orang tua. Nilai moral ini
digunakan untuk mengontrol dan mengarahkan ego dalam upayanya dalam memenuhi
dorongan id.
Superego
berfungsi membatasi dorongan-dorongan id dan mengendalikan ego agar tidak
melakukan tindakan yang bertentangan dengan kode moral atau norma masyarakat. Misalnya pesan-pesan orangtua,guru dan
masyarakat disamping tradisi ras,
budaya dan nasional memberikan sokongan penting bagi perkembangan superego anak. Melalui superego ini anak dapat membedakan antara yang baik dan
yang buruk dan antara yang benar dan
mana yang salah.
c.
Perkembangan kepribadian
Menurut
Freud, perkembangan kepribadian – sehat dan tidak sehat – sangat berhubungan
dengan cara-cara yag digunakan oleh individu dalam melewati fase-fase
perkembangan pada enam tahun pertama kehidupannya.
Tahapan perkembangan ini disebut tahapan psikoseksual karena memperesentasikan
suatu kebutuhan(dan pemuasan) seksual yang menonjol pada stiap tahapan
perkembangan. Hambatan yang terjadi pada proses pemenuhan kebutuhan seksual
pada setiap tahapan - disebut fiksasi berpotensi menyebabkan gangguan perilaku pada waktu dewasa.
Tahapan-tahapan perkembangan psikoseksual:
1) Tahap oral(0-1 tahun)
Kontak pertama yag dilakuka oleh
bayi setelah kelahirannya adalah melalui mulut(oral). Kepuasan
seksual(kesenangan) pada saat ini diperoleh melalui mulut, yakni melalui
berbagai aktivitas mulut seperti makan, minum, dan menghisap atau menggigit.
Fiksasi pada tahap ini menyebabkan orang mengembangkan kepribadian oral, yakni menjadi orang yang tergantung dan lebih
senang untuk bertindak pasif dan menerima bantuan dari orang lain.
Tugas perkembangan utama fase
oral adalah memperoleh rasa percaya, baik kepada diri sendiri, dan orang lain.
Cinta adalah perlindungan terbaik terhadap ketakutan dan ketidakamanan.
Anak-anak yang dicintai tidak akan banyak menemui kesulitan dalam menerima
dirinya, sebaliknya anak-anak yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima, dan
tidak dicintai cenderung mengalami kesulitan dalam menerima dirinya sendiri,
dan belajar untuk tidak mempercayai orang lain, serta memandang dunia sebagai
tempat yang mengancam. Efek penolakan pada fase oral akan membentuk anak
menjadi pribadi yang penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif,
benci, dan kesepian.
2) Tahap anal(1-3 tahun)
Interaksi
melalui fungsi pembuangan isi perut(anal) dan memperoleh kesenangan melalui
aktivitas-aktivitas pembuangan. Pada
fase anal anak banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutan orangtua, terutama
yang berhubungan dengan toilet training, dimana anak memperoleh pengalaman
pertama dalam hal kedisiplinan. Fiksasi pada tahapan
ini menyebabkan anak mengembangkan kepribadian anal, yakni menjadi orang yang
sangat menekankan kepatuhan, konformitas, keteraturan, menjadi kikir, dan suka
melawan atau memberontak. Tugas
perkembangan pada fase ini adalah anak harus belajar mandiri, dan belajar
mengakui dan menangani perasaan-perasaan negatif. Banyak sikap terhadap fungsi
tubuh sendiri yang dipelajari anak dari orangtuanya. Selama fase anal anak akan
mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dan
sebagainya, namun mereka harus belajar bahwa perasaan-perasaan tersebut bisa
diterima. Hal penting lain yang harus dipelajari anak adalah bahwa mereka
memiliki kekuatan, kemandirian, dan otonomi.
3) Tahap palis(3-5 tahun)
Pada
fase ini anak laki-laki dan perempuan senang menyentuh (mengeksploitasi) organ
kelaminnya untuk memperoleh kesenangan sambil melakukan fantasi-fantasi
seksual. Anak laki-laki mengembangkan fantasi seksual dengan ibunya disebut oedipus complex dan anak perempuan
mengembangkan fantasi seksual dengan ayahnya disebut electra complex. Jika konflik oedipal
ini tak terpecahkan, anak laki-laki aka berkembang menjadi homoseksual atau
heteroseksual sedangka anak perempuan akan menjadi wanita genit penggoda pria
atau lesbian.. Fase Phalic juga
merupakan periode perkembangan hati nurani, dimana anak belajar mengenai
standar-standar moral. Selama fase ini anak perlu belajar menerima perasaan
seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri
secara sehat. Mereka membutuhkan contoh yang memadai bagi identifikasi peran
seksual, untuk mengetahui apa yang benar dan salah, serta apa yang maskulin dan
feminin, sehingga mereka memperoleh perspektif yang benar tentang peran mereka
sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.
4) Tahap laten(6-12 tahun)
Pada
tahap ini anak laki-laki dan anak perempuan menekankan semua isu-isu oedipal
dan kehilangan minat seksualnya. Sebaliknya, mereka mulai melibatkan dirinya ke
dalam kelompok bermain yang terdiri atas anak-anak lain dari jenis kelamin yang
sama, baik kelompok yang kelompok yang bersifat full male atau full female. Namun berkurangnya perhatian pada masalah seksual
itu bersifat laten dan masih akan terus memberikan pengaruh pada tahap
perkembangan kepribadian berikutnya.
5) Tahap genital(12 tahun
keatas)
Fase genital dimulai
pada usia 12 tahun, yaitu pada masa remaja awal dan berlanjut terus sepanjang
hidup. Pada fase ini energi seksual anak mulai terarah kepada lawan jenis bukan
lagi pada kepuasan diri melalui masturbasi, dan anak mulai mengenal cinta
kepada lawan jenis.
Ketika memasuki masa pubertas anak-anak mulai
tertarik satu sama lain dengan lawan jenisnya dan menjadi manusia yang lebih
matang. Mereka saling mengembangkan afeksi (hubungan) dan minat-minat seksual,
cinta, dan bentuk-bentuk keterikatan yang lain.
d.
Mekanisme pertahanan ego
Ketiga struktur ego, id, dan
superego tidak selalu dapat bekerja secara harmonis. Dalam rangka memenuhi
kebutuhan id, antara ketiga divisi kepribadian tersebut seringkali terjadi
konflik. Konflik antara ketiga struktur kepribadian disebut konflik intrapsikis. Jika tak segera
terselesaikan, konflik intrapsikis berpotensi menimbulkan perasaan cemas.
Dalam
hal ini Freud mengemukakan tiga bentuk kecemasan, yakni:
a. Kecemasan Neurotik adalah
perasaan takut bahwa insting-insting akan terlepas dan menyebabkan individu
akan melakukan sesuatu yang mendatangkan hukuman.
b. Kecemasan Realistic adalah
ketakutan terhadap ancaman bahaya dunia luar.
c. Kecemasan Moral adalah
kecemasan kata hati.Jika
ego tak mampu menemukan cara-cara yang realistis untuk merepon rasa cemas, ia
menggunakan cara yang tidak realistis yang disebut mekanisme pertahanan ego(ego
defence mechanism).
Kaplan, dkk. (1994) dan Seligman (1996)
Mengklasifikannya empat bentuk mekanisme pertahanan ego
:
1. Narsistik atau Psikotik yakni
suatu bentuk pertahanan ego yang dilakukan dengan cara pembiasaan,
pengingkaran, dan proyeksi delusional. Banyak ditemukan pada anak-anak.
2. Tidak Matang mekanisme
ini umum ditemukan pada remaja dan beberapa orang dewasa dengan gangguan mood,
kepribadian, dan control impuls. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah
proyeksi, regresi, pembelahan, devaluasi, kenakalan.
3. Neurotic mekanisme
ini umum ditemukan pada orang dewasa yang dinyatakan dalam bentuk rasionalisasi,
intelektualisasi, dan pengalihan.
4. Sehat merupakan
bentuk mekanisme yang produktif yang umumnya diperlihatkan oleh orang dewasa
yang sehat dalam bentuk sublimasi, humor, supresi sadar atau semi sadar, dan
kompensasi.






0 komentar:
Posting Komentar