A.
Definisi Teori Konseling
Perilaku dan Konseling-Kognitif Perilaku
Menurut Gerald corey, konseling perilaku (konseling behaviour)
adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai
teori tentang belajar. Penerapan prinsip – prinsip belajar ini berakar pada
teori pengkondisian klasikdari Ivan Pavlov maupun pada teori pengkondisian
operan dari B.F. Skinner.
Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini ialah atas
pertimbangan bahwa konselor membantu orang (konseli ) belajar atau mengubah
perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar menciptakan kondisi
yang sedemikian rupa sehingga konseli dapat mengubah perilakunya serta
memecahkan masalahnya.
Konseling kognitif perilaku merupakan penggabungan tekhnik – tekhnik
dari perspektif perilaku dengan tekhnik – tekhnik dari perspektif kognitif,
karena dalam perkembangannya para teoris dan praktisi teori KP menyadari adanya
keterbatasan dalam teori – teori belajar dan mengakui peran kognisi ( bahkan
emosi ) dalam mempengaruhi perilaku
B.
Perspektif Historis
Teori
Psikologi yang dikenal sebagai ilmu tentang perilaku manusia
sebenarnya banyak dipengaruhi oleh paradigma behavioris. Paradigma tersebut
melihat manusia “as the behaviorist views it”, sehingga kepribadian manusia
dalam perspektif behavioral adalah perilaku nampak dari seseorang individu.
Kemunculan behavioris sebagai peradigma merupakan gagasan dari akibat ketidakpuasan
terhadap psikologi yang sudah ada sebelumnya (psikoanalisis).
Asumsi dasar dari psikologi behavioristis antara lain (Alwisol,
2003:400):
1.
Tingkah laku itu mengikuti
hukum tertentu, artinya setiap peristiwa berhubungan secara teratur dengan
peristiwa lainnya.
2.
Tingkah laku dapat diramalkan
(diprediksikan).
3.
Tingkah laku manusia dapat
dikontrol.
Dari
paradigma behavioris lahirlah pendekatan konseling yang disebut dengan
konseling behavioral, yang menekankan aspek modifikasi perilaku. Sejak
perkembangannya tahun 1960-an, teknik-teknik modifikasi perilaku semakin
bervariasi baik yang menekankan aspek perilaku nampak (fisik) maupun kognitif.
Saat ini konseling behavioral berkembang pesat dengan ditemukannya sejumlah
teknik-teknik pengubahan perilaku, baik yang menekankan pada aspek fisiologis,
perilaku, maupun kognitif (Hackman, 1993). Rachman (1963) dan Wolpe (1963)
mengemukakan bahwa terapi behavioral dapat menangani masalah perilaku mulai
dari kegagalan individu untuk belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi
gejala neurosis.
Berikut historis
tentang perkembangan teori Konseling Perilaku ( KP ) atau Konseling Behavioral
©
Konseling behavioral dikembangkan
sejak 1950-an dan 1960-an
©
Pemisahan diri yang radikal dari
Psikoanalisis yang berlaku saat itu
©
Banyak berbeda dari konseling lain
karena pengguna pembiasaan klasik (classical conditioning) dan pembiasaan
operan (operant conditioning) terhadap penanganan berbagai perilaku
bermasalah
©
Konseling behavior kontemporer
bengkit secara serentak di AS, Afsel, dan Inggris th 1950-an
©
Konseling Behavioral terus berkembang meskipun
banyak kecaman dari konseling tradisonal (psiko analitik)
©
1960-an Albert Bandura mengembangkan
teori belajar sosial (social learning theory) yang menggabungkan pembiasaan
klasik dan pembiasaan operan denngan belajar observasional.
Ia menjadikan kognitif menjadi fokus yang sah dalam konseling behavioral
©
1970-an konseling behavioral muncul
sebagai kekuatan utama dan psikologi dan memiliki pengaruh yang berarti dalam
pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan kerja sosial.
©
Teknik-teknik behavioral dikembangkan dan
diperluas yang juga diaplikasikan pada bidang-bidang bisnis, industri, dan
pengasuhan anak.
©
Tahun 1980-an merupakan pencarian
wawasan baru dalam konsep dan metode yang bergerakjauh di luar teori belajar
tradisonal
©
Adanya perhatian yang meningkat
terhadap peran emosi dalam perubahan terapeutik dan peran faktor-faktor
biologis dalam gangguan psikologis
©
Perkembangan yang menonjol ialah
timbulnya konseling kognitif behavior (cognitive- behavior
Therapy/counseling) secara berkelanjutan sebagai kekuatan dan aplikasi
teknik-teknik behavioral terhadap pencegahan dan penanganan gangguan medis
©
Tahun 1990, assosiasi pengembangan
terapi behavior mengklaim dirinya memiliki 4300 anggota. Ada 50 jurnal dan
memiliki cabang di seluruh dunia.
C.
Pokok – Pokok Teori
1. Pandangan
tentang sifat manusia
Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi –
asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Hakikat manusia
dalam pandangan para behaviorist adalah fasif dan mekanistis, manusia dianggap
sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan
lingkungan yang membentuknya. Lebih jelas lagi (Muhamad Surya dalam Farida Euis) menjelaskan
tentang hakikat manusia dalam pandangan teori behavioristik sebagai berikut : ‘dalam teori ini
menganggap manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam
deterministik dan sedikit
peran aktifnya dalam memilih martabatnya’.
Manusia memulai
kehidupnya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini
menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku
seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam
situasi hidupnya. Dapat kita simpulkan dari anggapan teori ini bahwa perilaku
manusia adalah efek dari lingkungan, pengaruh yang paling kuat maka itulah yang
akan membentuk diri individu.
Beberapa
konsep tentang hakikat dasar manusia:
a. Tingkah laku manusia diperoleh dari
belajar dan proses terbentuknya kepribadian adalah dari proses pemasakan dan
proses belajar.
b. Kepribadian manusia berkembang
bersama-sama dengan interaksinya dengan lingkungan
c. Setiap orang lahir dengan membawa
kebutuhan bawaan, tetapi sebagian besar kebutuhan dipelajari dari interaksi
dengan lingkungan.
d. Manusia tidak lahir baik atau jahat,
tetapi netral. Bagaimana kepribadian seseorang dikembangakan tergantung
interaksi dengan lingkungan.
e. Manusia mempunyai tugas untuk berkembang.
Dan semua tugas perkembangan adalah tugas yang harus diselesaikan dengan
belajar.
2. Sistem Teori
·
Empat Perspektif Teori Behavioral
Konseling
behavioral saat ini dapat dipahami dengan memperhatikan empat bidang pokok
perkembangan: classical conditioning, operant conditioning, social learning
theory, dan cognitive-behavior counseling
a.
Kondisional klasik (classical
conditioning)
·
Tokoh kondisional klasik adalah Ivan
Pavlov yang mengilustrasikan classical conditioning melalui percobaan
dengan anjing.
·
Kesimpulan teoritisnya, bahwa perilaku
manusia baik yang adaptif maupun tidak adaptif dikendalikan oleh stimuli
tertentu yang ada sebelum perilaku tersebut.
b.
Operan Conditioning (operant
conditioning)
·
Merupakan jenis belajar dimana
perilaku semata-mata dipengaruhi oleh akibat yang menyertainya. Tokoh adalah
B.F. Skinner
·
Perubahan tingkahlaku terjadi karena
adanya penguatan dan hukuman. Tingkahlaku yang memperoleh ganjaran dipelihara
dan dikembangkan, sebaliknya tingkahlaku yang mendapat hukuman akan dihentikan
·
Teori pembiasaan operan menghasilkan
tiga prinsip belajar : Penguatan (reinforsment), Extinction (ekstinsi), dan
hukuman (punishment). Penguatan merupakan stimulus yang dapat meningkatkan
terjadinya / berulangnya respon individu. Penguatan dapat berupa penguatan
positif maupun negative.
Kedua jenis
belajar tersebut (classical conditioning dan operan conditioning)
tidak memasukkan konsep-konsep mediasi (proses berfikir, sikap, dan nilai)
c.
Pendekatan Belajar Sosial (social Learning Theory)
·
Dikembangkan oleh Bandura
bersifat interaksional, interdesipliner, dan multimodal. Perilaku dipengaruhi
oleh peristiwa-peristiwa stimulus, pengaruh eksternal, dan proses mediasi
kognitif
·
Periku dibentuk berdasarkan atas
pengamatan perilaku model
d. Konseling
Kognitif Behavior (cognitive-behavior counseling )
ü
Bersama Social Learning Theory mewakili
arus utama konseling perilaku kontemporer. Sejak tahun 1970-an gerakan behavior
meyakini peran pikiran, bahkan menemptkan factor kognitif sebagai peran pokok
dalam memahami dan menangani masalah-masalah emosional dan perilaku.
Secara umum, konseling behavioral
mengacu praktek yang didasarkan pada teori social kognitif yang mengakomodasi
seperangkat prinsip dan prosedur kognitif konseling behavioral saat ini
cenderung terpadu.
©
Asumsi Dasar
Asumsi dasar yang utama adalah
proses-proses kognitif memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku,
bahwa perilaku dikendalikan oleh interaksi yang kompleks antara peristiwa
internal (keyakinan, harapan, persepsi diri ) dan kekuatan lingkungan.
Pandangan
tentang Manusia
Pendekatan behavioral didasarkan
pada pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia yang menekankan pentingnya
pendekatan sistematis dan terstruktur pada konseling. Namun pendekatan ini
tidak mengesampingkan pentingnya hubungan konseli untuk membuat pilihan-
pilihan. Dari dasar pendekatan tersebut di atas, dapat dikemukakan konsep
tentang hakekat manusia sebagai berikut :
a. Tingkah laku manusia diperoleh dari
belajar, dan proses terbentuknya kepribadian adalah melalui proses kematangan
dari belajar.
b. Kepribadian manusia berkembang
bersama-sama dengan interaksinya dengan lingkungannya.
c. Setiap manusia lahir dengan membawa
kebutuhan bawaan, tetapi sebagian besar kebutuhan dipelajari dari hasil
interaksi dengan lingkungannya.
d. Manusia tidak dilahirkan dalam
keadaan baik atau jahat, tetapi dalam kondisi netral, bagaimana kepribadian
seseorang dikembangkan, tergantung pada interaksinya dengan lingkungan.






0 komentar:
Posting Komentar