Rabu, 04 April 2012

KONSELING REBT


1.Perspektif Historis
Konseling rasional-emotif-perilaku dikembangkan oleh Albert Ellis. Di antara para ali kognitif lainnya Albert Ellis tergolong yang paling populer. Ellis memiliki asumsi bahwa manusia memainkan peran penting dalam menyebabkan kesulitannya sendiri melalui cara mereka dalam menginterpretikan situasi atau peristiwa lingkungan. Dengan kata lain, kognisi manusi merupakan sumber kesulitannya. KREP merupakan pengembangan dari konseling rasional-emosi (rational emotif counseling)-yang populer dengan akronim RET- yang juga dikebangkan oleh Ellis sebelumnya, yakni pada tahun 1950-an. KREP pada dasarnya menggambarkan adanya perubahan dalam keyakinan yang dipegang oleh Ellis, yakni dengan memasukkan komponen perilaku sebagai bagian dari sistem teorinya.
            Melalui KREP Ellis mengakui bahwa kognisi, emosi, dan perilaku saling berinteraksi dan saling mempengaruhi (Bond & Dreyden, 1996). Jika RET hanya menekankan pada aspek  kognitif dan emosi, maka melalui KREP Ellis mulai memberikan respek pada aspek perilaku (tindakan) dalam proses perlakuan. Dapat dikatakan dibandingkan dengan  sistem teori Ellis yang terdahulu, KREP tampak lebih humanis. Meskipun demikian KREP tetap menekankan pada peran penting kognisi dalam mempengaruhi fungsi manusia. Dalam hal ini, KREP menggunakan asumsi bahwa mengubah kognisi dan pernyataan diri menjadi lebih emosional merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan fungsi tiga aspek diri tersebut. Karena asumsinya itu maka KREP dapat diklasifikasikan ke dalam pendekatan integratif. Seperti halnya ahli-ahli lain dari perspektif humanistik dan perilaku, Ellis mengembangkan teorinya karena tidak puas dengan model pedekatan psikoanalisa yang menurutnya seringkali tidak efektif. Secara teknis, terdapat 2 varian KREP : umum dan elegan. KREP umum yang menusatkan perhatian pada penanganan masalah-masalah praktis dan mendesak, sedangkan elegan yang digunakan untuk  membantu individu mencapai perubahan emosional dan filosofis yang intensif. Ellis menggunakan KREP untuk menangani kesulitan-kesulitan yang dialaminya di  hari tuannya, yakni kemampuan yang disebabkan karena menderita diabetes, mata dan menurunnya pendengaran, dan ketidakmampuan yang lain (Ellis, 1997).
            Ellis adalah seorang pria dengan kepribadian yang kuat. Sebagaimana digambarkan oleh Dreyden. Proponen lain dalam  pengembangan KREP, Ellis adalah orang yang humoris, dan flamboyan meskipun juga memperlihatkan rasa penakut. Ellis juga digambarkan sebagai sosok yang sangat terbuka untuk mendiskusikan kehidupan pribadinya dan seringkali menggunakan dirinya sebagai suatu model peran bagi kerjanya.

2.Pokok-pokok Teori           
2.3.1 Teori                                                     
                  Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Ø  Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Ø  Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Ø  Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variabel antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
2.3.2 Konsepsi Tentang Manusia
KREP adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia
dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai,bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhyul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungsional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengkondisian awal. KREP menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tidak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Bagaimanapun, menurut KREP, manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain (Ellis, 1973a, hlm. 175-176)
KREP  menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara
stimultan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Sebagaimana dinyatakan oleh Ellis (1973, hlm.313), “ketika mereka beremosi, mereka juga berpikir dan bertindak. Ketika mereka bertindak, mereka juga berpikir dan beremosi. Ketika mereka berpikir, mereka juga beremosi dan bertindak. Dalam rangka memahami tingkah laku menolak diri, orang harus memahami bagaimana seseorang beremosi, berpikir, mempersepsi, dan bertindak.
Tentang sifat manusia, Ellis (1967, hlm.79-80) menyatakan bahwa baik pendekatan psikoanalitik Freudian maupun pendekatan eksistensial telah keliru dan bahwa metodologi-metodologi yang dibangun di atas kedua sistem psikoterapi tersebut tidak efektif dan tidak memadai. Ellis menandaskan bahwa pandangan Freudian tentang manusia itu keliru karena pandangan eksistensial humanistik tentang manusia, sebagian benar. Menurut Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikan secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri.
2.3.3 Sistem Teori                                                                                                                
a.      Asumsi-asumsi tentang gangguan perilaku
       Pandangan tentang gangguan perilaku dalam KREP dirumuskan oleh Ellis dalam bentuk penerimaan diri dan akar gangguan emosional. Gangguan emosional seringkali ditemukan dalam diri orang-orang yang kurang bisa menerima diri atau orang yang menerima dirinya secara kondisional. Mereka tidak menilai dirinya sebagaimana adanya tetapi lebih didasarkan pada prestasi yang dicapainya.Sebagai contoh, orang mungkin membuat penerimaan diri diri secara kondisional sebagai berikut : “jika saya gagal, maka saya ini adalah orang yang tak berguna dan tak berharga “.Menurut Ellis, orang harus memiliki pandangan yang realistis tentang kekuatan dan kelemahannya. Manusia akan menjadi lebih berbahagia jika mereka dapat menerima, menilai, dan meyakini diri mereka bahkan ketika mereka kecewa dengan apa yang diperolehnya atau mengalami peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi dalam kehidupannya. Orang seharusnya menilai pikiran dan perilakunya bukan dirinya.
       Orang dapat mengalami gangguan perilaku karena mereka menerapkan cara-cara berpikir yang tidak lurus, tidak logis, atau tidak rasional. Dengan kata lain, gangguan perilaku berakar pada cara berpikir individu. Menurur KREP, karena pikiran-pikiran yang tidak realistis atau pikiran tidak rasional begitu luas maka orang harus memiliki kecenderungan biologis yang kuat untuk berpikir tidak lurus dan yakin bahwa hidup harus berjalan seperti adanya. Meskipun demikian, kecenderungan untuk berpikir irasional diantara manusia itu bisa sagat bervariasi, dan variasi ini sebagian disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang dan sebagian berkaitan dengan gaya berpikir bawaan.
       Para konselor KREP mengakui bahwa trauma dan kesulitan pada masa anak-anak dapat mengarahkan orang untuk mengembangkan kecenderungan berpikir dan bertindak dalam cara yang merefleksikan kesulitan-kesulitan awal tersebut. Gangguan emosional, oleh karena itu berakar dari kombinasi antara kecenderungan bawaan dan dengan pemikiran irasional dan pengalaman hidupnya. Gangguan emosional ini selalu ditandai oleh dua tingkat kecemasan, yakni kegelisahan yang berkaitan dengan kesulitan situasional seperti pobia, dan kecemasan ego yang terjadi ketika orang merasa terancam karena merasa bersalah atau tidak mampu (Ellis, 1991). Guna menangani dua tingkat kecemasan tersebut, KREP menyediakan dua varian yang paralel, yakni KREP umum dan KREP elegan. Varian KREP  yang pertama digunakan untuk menangani tipe kecemasan pertama, dan varian KREP Yang kedua digunakan untuk menangani tipe kecemasam kedua.

b.      Mengikuti pandangan humanisme sekuler
Menurut seligman(2001), KREP tampak mengikuti pandangan humanisme sekuler karena menekankan pada persepsi dan tanggung jawab individu. Humanisme sekuler memandang manusia sebagai individu yang unik, yang selalu memiliki pilihan untuk hidup di dalam lingkungan sosial yang saling mempengaruhi. Humanisme sekuler juga memandang manusia dengan cara menilai apakah tindakannya tergolong rasional atau tidak rasional dan bukan atas dasar baik atau buruk. Berikut adalah uraian singkat dari beberapa konsep khusus pandangan humanisme sekuler dari Ellis:
·         KREP memiliki dimensi religius. Ellis sebenarnya tidak menentang religinya tetapi lebih pada sistem ajarannya yang dogmatis, kaku dan antihumanis. Bahkan ellis mengaku bahwa keyakinan religius dapat membantu orang untuk menemukan arahan yang bermakna dalam kehidupannya.
·         KREP merupakan pendekatan yang kompatibel. KREP merupakan metode yang kompatibel dengan berbagai pendekatan konseling dan psikoterapi modern. KREP memiliki penekanan pada nilai intrinsik individu. Penekananya pada upaya membantyu individu dalam menemukan makna hidup juga kompatibel dengan pendekatan eksistensial. KREP juga merupakan suatu pendekatan fenomenologis yang mengakui persepsi subyektif manusia menjadi sumber dari kesulitannya.
·         Pikiran sebagai jalan menuju perubahan. Orang perlu mengakui dan menerima bahwa mereka bertanggung jawab bagi kesulitan emosional mereka sendiri. Meskipun KREP mengakui pengaruh pengalaman traumatis pada kesulitan sekarang, perlakuan tetap harus diarahkan untuk membantu individu menerima pengalamannya, berhenti menyalahkan diri, dan memusatkan perhatian pada saat sekarang dan masa depan dan bukan masa lampau.
·         Insight. Insight tentang akar permasalahan dan gangguan emosional bukan merupakan bagian esensial dalam KREP, bahkan insight dipandang dapat merusak upaya menuju perubahan. Bentuk insight positif dapat mendorng perubahan yakni insight untuk menyadari bahwa kita perlu bekerja keras untuk membuat perubahan.
·         Memusatkan perhatian pada saat sekarang. KREP memusatkan perhatian pada pikiran- pikiean sekarang meskipun tidak mengabaikan masa lampau. Ini dipandang lebih bermakna dan dapat mengembangkan rapport.
·         Mengakui emosi. KREP mendorong konseli untuk mengungkapkan, menyadari, dan mengakui emosi-emosinya agar lebih mudah untuk mengenali dan mengubah keyakinan-keyakinan irasionalnya.
·         Memberikan perhatian pada perilaku. Melalui KREP, ellis mulai memberikan perhatian yang luas terhadap dimensi perilaku.namun meskipun mengakui bahwa antara perilaku, emosi dan kognisi memiliki hubungan tinggal balik, pikiran tetap dipandang sebagai aspek primerdan menjadi jalan utama menuju terjadinya perubahan pada tindakan dan emosi

c.       Keyakinan irasional
       Telah dikemukakan, KREP memegang asumsi bahwa keyakinan irasional menjadi faktor yang menyebabkan kesulitan. Untuk memperoleh gambaran tentang keyakinan irasional dalam sistem KREP, ada enam bentuk keyakinan yang dikemukakan oleh Ellis dan Dryden (1997), yaitu :
·         Pengamatan nonevaluatif : individu yang berlari ke arah sebuah bus yang sedang berjalan dari pinngir jalan.
·         Inferensi nonevaluatif : individu mungkin berusaha untuk mengejar atau menangkap bus
·         Positive preferential evaluations : Kawan saya banyak tersenyum dan keliatan gembira ketika dia sedang berjalan dengan saya, sehingga saya menganggap ia senang berjalan dengan saya.
·         Positive musturbator : Saya selalu diminta untuk menjadi seorang penerima tamu dalam suatu acara perjamuan, jadi saya pikir jika saya adalah orang yang menyenangkan.
·         Negative porefrential evaluations : teman saya tampak gelisah dan selalu melihat arlojinya, oleh karena itu saya menduga jika ia sudah inhin berhenti berbincang dengan saya.
·         Negative musturbatory evaluations : Saya tidak berhasil menarik hatinya dan menjadikan ia sebagai kekasih saya ; oleh karena itu saya merasa gagal dan ini sungguh memalukan.

       Dua bentuk keyakinan yang pertama merupakan keyakinan netral dan keyakinan nonjudmental yang disebut oleh Ellis sebagai kognisi dingin. Evaluasi prefential positif maupun negatif mungkin akurat atau tidak akurat, tetapi ia berlandaskan pada realita, merefleksikan preferensi dan bukan pendirian, dan tidak absolut. Oleh karena itu keduanya dapat dipandang sebagai keyakinan rasional dan kognisi yang hangat. Evaluasi musturbatory positif dan negatif merupakan keyakinan yang selalu menggeneralisasikan, menilai diri dari orang lain, dan absolut. Keduanya meripakan kognisi panas yang berpotensi menyebabkan kesulitan atau gangguan emosional.
       KREP mengidentifikasikan pikiran dan keyakinan kedalam bentuk keyakinan rasional (rational beliefe = rB) dan keyakinan irasional (irrational beliefe = iB. Keyakinan irasional seringkali melibatkan kata-kata yang menuntut seperti “harus” atau “seharusnya” berkenaan dengan isu-isu keberhasilan, persetujuan, keadilan, kesenangan, atau bantuan. Sebaliknya, keyakinan irasional cenderung evaluatif dan ekstrim atau absolut. Keyakinan irasional merepresentasikan suatu logika yang salah, tidak konsisten dengan data empiris, dan menghambat orang untuk mencapai tujuan pribadinya (Maultsby, 1984).

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites