1.Perspektif Historis
Konseling
rasional-emotif-perilaku dikembangkan oleh Albert Ellis. Di antara para ali
kognitif lainnya Albert Ellis tergolong yang paling populer. Ellis memiliki
asumsi bahwa manusia memainkan peran penting dalam menyebabkan kesulitannya
sendiri melalui cara mereka dalam menginterpretikan situasi atau peristiwa
lingkungan. Dengan kata lain, kognisi manusi merupakan sumber kesulitannya.
KREP merupakan pengembangan dari konseling rasional-emosi (rational emotif
counseling)-yang populer dengan akronim RET- yang juga dikebangkan oleh Ellis
sebelumnya, yakni pada tahun 1950-an. KREP pada dasarnya menggambarkan adanya
perubahan dalam keyakinan yang dipegang oleh Ellis, yakni dengan memasukkan
komponen perilaku sebagai bagian dari sistem teorinya.
Melalui KREP Ellis mengakui bahwa kognisi, emosi, dan
perilaku saling berinteraksi dan saling mempengaruhi (Bond & Dreyden,
1996). Jika RET hanya menekankan pada aspek
kognitif dan emosi, maka melalui KREP Ellis mulai memberikan respek pada
aspek perilaku (tindakan) dalam proses perlakuan. Dapat dikatakan dibandingkan
dengan sistem teori Ellis yang
terdahulu, KREP tampak lebih humanis. Meskipun demikian KREP tetap menekankan pada
peran penting kognisi dalam mempengaruhi fungsi manusia. Dalam hal ini, KREP
menggunakan asumsi bahwa mengubah kognisi dan pernyataan diri menjadi lebih
emosional merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan fungsi tiga
aspek diri tersebut. Karena asumsinya itu maka KREP dapat diklasifikasikan ke
dalam pendekatan integratif. Seperti halnya ahli-ahli lain dari perspektif
humanistik dan perilaku, Ellis mengembangkan teorinya karena tidak puas dengan
model pedekatan psikoanalisa yang menurutnya seringkali tidak efektif. Secara
teknis, terdapat 2 varian KREP : umum dan elegan. KREP umum yang menusatkan
perhatian pada penanganan masalah-masalah praktis dan mendesak, sedangkan
elegan yang digunakan untuk membantu
individu mencapai perubahan emosional dan filosofis yang intensif. Ellis menggunakan
KREP untuk menangani kesulitan-kesulitan yang dialaminya di hari tuannya, yakni kemampuan yang disebabkan
karena menderita diabetes, mata dan menurunnya pendengaran, dan ketidakmampuan
yang lain (Ellis, 1997).
Ellis adalah seorang pria dengan kepribadian yang kuat.
Sebagaimana digambarkan oleh Dreyden. Proponen lain dalam pengembangan KREP, Ellis adalah orang yang
humoris, dan flamboyan meskipun juga memperlihatkan rasa penakut. Ellis juga
digambarkan sebagai sosok yang sangat terbuka untuk mendiskusikan kehidupan
pribadinya dan seringkali menggunakan dirinya sebagai suatu model peran bagi
kerjanya.
2.Pokok-pokok Teori
2.3.1 Teori
Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu,
yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka
pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Ø Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami
atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah
laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa,
dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi
seseorang.
Ø Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau
verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua
macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan
yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional
merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal,
bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional
merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk
akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Ø Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional
sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan
emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini
bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variabel antara
dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC
ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional
itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif
dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
2.3.2 Konsepsi Tentang Manusia
KREP adalah aliran psikoterapi yang
berlandaskan asumsi bahwa manusia
dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun
untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki
kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan
mengatakan, mencintai,bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan
mengaktualkan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki
kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran,
berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan,
takhyul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri, serta menghindari
pertumbuhan dan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecenderungan untuk
terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungsional dan mencari
berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi
korban pengkondisian awal. KREP menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber
yang tidak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah
ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Bagaimanapun, menurut KREP,
manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan
keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan
dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia
mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain (Ellis, 1973a, hlm. 175-176)
KREP
menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara
stimultan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan
biasanya oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Sebagaimana dinyatakan
oleh Ellis (1973, hlm.313), “ketika mereka beremosi, mereka juga berpikir dan
bertindak. Ketika mereka bertindak, mereka juga berpikir dan beremosi. Ketika
mereka berpikir, mereka juga beremosi dan bertindak. Dalam rangka memahami
tingkah laku menolak diri, orang harus memahami bagaimana seseorang beremosi,
berpikir, mempersepsi, dan bertindak.
Tentang sifat manusia, Ellis (1967,
hlm.79-80) menyatakan bahwa baik pendekatan psikoanalitik Freudian maupun
pendekatan eksistensial telah keliru dan bahwa metodologi-metodologi yang
dibangun di atas kedua sistem psikoterapi tersebut tidak efektif dan tidak
memadai. Ellis menandaskan bahwa pandangan Freudian tentang manusia itu keliru
karena pandangan eksistensial humanistik tentang manusia, sebagian benar.
Menurut Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara
biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk
unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk
mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikan
secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi
kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri.
2.3.3 Sistem Teori
a. Asumsi-asumsi tentang
gangguan perilaku
Pandangan
tentang gangguan perilaku dalam KREP dirumuskan oleh Ellis dalam bentuk
penerimaan diri dan akar gangguan emosional. Gangguan emosional seringkali
ditemukan dalam diri orang-orang yang kurang bisa menerima diri atau orang yang
menerima dirinya secara kondisional. Mereka tidak menilai dirinya sebagaimana adanya
tetapi lebih didasarkan pada prestasi yang dicapainya.Sebagai contoh, orang
mungkin membuat penerimaan diri diri secara kondisional sebagai berikut : “jika
saya gagal, maka saya ini adalah orang yang tak berguna dan tak berharga
“.Menurut Ellis, orang harus memiliki pandangan yang realistis tentang kekuatan
dan kelemahannya. Manusia akan menjadi lebih berbahagia jika mereka dapat
menerima, menilai, dan meyakini diri mereka bahkan ketika mereka kecewa dengan
apa yang diperolehnya atau mengalami peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi
dalam kehidupannya. Orang seharusnya menilai pikiran dan perilakunya bukan
dirinya.
Orang
dapat mengalami gangguan perilaku karena mereka menerapkan cara-cara berpikir
yang tidak lurus, tidak logis, atau tidak rasional. Dengan kata lain, gangguan
perilaku berakar pada cara berpikir individu. Menurur KREP, karena
pikiran-pikiran yang tidak realistis atau pikiran tidak rasional begitu luas
maka orang harus memiliki kecenderungan biologis yang kuat untuk berpikir tidak
lurus dan yakin bahwa hidup harus berjalan seperti adanya. Meskipun demikian,
kecenderungan untuk berpikir irasional diantara manusia itu bisa sagat
bervariasi, dan variasi ini sebagian disebabkan oleh adanya perbedaan latar
belakang dan sebagian berkaitan dengan gaya berpikir bawaan.
Para
konselor KREP mengakui bahwa trauma dan kesulitan pada masa anak-anak dapat
mengarahkan orang untuk mengembangkan kecenderungan berpikir dan bertindak
dalam cara yang merefleksikan kesulitan-kesulitan awal tersebut. Gangguan
emosional, oleh karena itu berakar dari kombinasi antara kecenderungan bawaan
dan dengan pemikiran irasional dan pengalaman hidupnya. Gangguan emosional ini
selalu ditandai oleh dua tingkat kecemasan, yakni kegelisahan yang berkaitan
dengan kesulitan situasional seperti pobia, dan kecemasan ego yang terjadi
ketika orang merasa terancam karena merasa bersalah atau tidak mampu (Ellis,
1991). Guna menangani dua tingkat kecemasan tersebut, KREP menyediakan dua
varian yang paralel, yakni KREP umum dan KREP elegan. Varian KREP yang pertama digunakan untuk menangani tipe
kecemasan pertama, dan varian KREP Yang kedua digunakan untuk menangani tipe
kecemasam kedua.
b. Mengikuti pandangan
humanisme sekuler
Menurut seligman(2001), KREP tampak
mengikuti pandangan humanisme sekuler karena menekankan pada persepsi dan
tanggung jawab individu. Humanisme sekuler memandang manusia sebagai individu
yang unik, yang selalu memiliki pilihan untuk hidup di dalam lingkungan sosial
yang saling mempengaruhi. Humanisme sekuler juga memandang manusia dengan cara
menilai apakah tindakannya tergolong rasional atau tidak rasional dan bukan
atas dasar baik atau buruk. Berikut adalah uraian singkat dari beberapa konsep
khusus pandangan humanisme sekuler dari Ellis:
·
KREP memiliki dimensi religius. Ellis sebenarnya tidak
menentang religinya tetapi lebih pada sistem ajarannya yang dogmatis, kaku dan
antihumanis. Bahkan ellis mengaku bahwa keyakinan religius dapat membantu orang
untuk menemukan arahan yang bermakna dalam kehidupannya.
·
KREP merupakan pendekatan yang kompatibel. KREP merupakan
metode yang kompatibel dengan berbagai pendekatan konseling dan psikoterapi
modern. KREP memiliki penekanan pada nilai intrinsik individu. Penekananya pada
upaya membantyu individu dalam menemukan makna hidup juga kompatibel dengan
pendekatan eksistensial. KREP juga merupakan suatu pendekatan fenomenologis
yang mengakui persepsi subyektif manusia menjadi sumber dari kesulitannya.
·
Pikiran sebagai jalan menuju perubahan. Orang perlu mengakui
dan menerima bahwa mereka bertanggung jawab bagi kesulitan emosional mereka
sendiri. Meskipun KREP mengakui pengaruh pengalaman traumatis pada kesulitan
sekarang, perlakuan tetap harus diarahkan untuk membantu individu menerima
pengalamannya, berhenti menyalahkan diri, dan memusatkan perhatian pada saat
sekarang dan masa depan dan bukan masa lampau.
·
Insight. Insight tentang akar permasalahan dan gangguan
emosional bukan merupakan bagian esensial dalam KREP, bahkan insight dipandang
dapat merusak upaya menuju perubahan. Bentuk insight positif dapat mendorng
perubahan yakni insight untuk menyadari bahwa kita perlu bekerja keras untuk
membuat perubahan.
·
Memusatkan perhatian pada saat sekarang. KREP memusatkan
perhatian pada pikiran- pikiean sekarang meskipun tidak mengabaikan masa
lampau. Ini dipandang lebih bermakna dan dapat mengembangkan rapport.
·
Mengakui emosi. KREP mendorong konseli untuk mengungkapkan,
menyadari, dan mengakui emosi-emosinya agar lebih mudah untuk mengenali dan
mengubah keyakinan-keyakinan irasionalnya.
·
Memberikan perhatian pada perilaku. Melalui KREP, ellis mulai
memberikan perhatian yang luas terhadap dimensi perilaku.namun meskipun
mengakui bahwa antara perilaku, emosi dan kognisi memiliki hubungan tinggal
balik, pikiran tetap dipandang sebagai aspek primerdan menjadi jalan utama
menuju terjadinya perubahan pada tindakan dan emosi
c. Keyakinan irasional
Telah
dikemukakan, KREP memegang asumsi bahwa keyakinan irasional menjadi faktor yang
menyebabkan kesulitan. Untuk memperoleh gambaran tentang keyakinan irasional
dalam sistem KREP, ada enam bentuk keyakinan yang dikemukakan oleh Ellis dan
Dryden (1997), yaitu :
·
Pengamatan nonevaluatif :
individu yang berlari ke arah sebuah bus yang sedang berjalan dari pinngir
jalan.
·
Inferensi nonevaluatif :
individu mungkin berusaha untuk mengejar atau menangkap bus
·
Positive preferential
evaluations : Kawan saya banyak tersenyum dan keliatan gembira ketika dia
sedang berjalan dengan saya, sehingga saya menganggap ia senang berjalan dengan
saya.
·
Positive musturbator :
Saya selalu diminta untuk menjadi seorang penerima tamu dalam suatu acara
perjamuan, jadi saya pikir jika saya adalah orang yang menyenangkan.
·
Negative porefrential
evaluations : teman saya tampak gelisah dan selalu melihat arlojinya, oleh
karena itu saya menduga jika ia sudah inhin berhenti berbincang dengan saya.
·
Negative musturbatory
evaluations : Saya tidak berhasil menarik hatinya dan menjadikan ia sebagai
kekasih saya ; oleh karena itu saya merasa gagal dan ini sungguh memalukan.
Dua
bentuk keyakinan yang pertama merupakan keyakinan netral dan keyakinan
nonjudmental yang disebut oleh Ellis sebagai kognisi dingin. Evaluasi
prefential positif maupun negatif mungkin akurat atau tidak akurat, tetapi ia
berlandaskan pada realita, merefleksikan preferensi dan bukan pendirian, dan
tidak absolut. Oleh karena itu keduanya dapat dipandang sebagai keyakinan
rasional dan kognisi yang hangat. Evaluasi musturbatory positif dan negatif
merupakan keyakinan yang selalu menggeneralisasikan, menilai diri dari orang
lain, dan absolut. Keduanya meripakan kognisi panas yang berpotensi menyebabkan
kesulitan atau gangguan emosional.
KREP
mengidentifikasikan pikiran dan keyakinan kedalam bentuk keyakinan rasional
(rational beliefe = rB) dan keyakinan irasional (irrational beliefe = iB.
Keyakinan irasional seringkali melibatkan kata-kata yang menuntut seperti
“harus” atau “seharusnya” berkenaan dengan isu-isu keberhasilan, persetujuan,
keadilan, kesenangan, atau bantuan. Sebaliknya, keyakinan irasional cenderung
evaluatif dan ekstrim atau absolut. Keyakinan irasional merepresentasikan suatu
logika yang salah, tidak konsisten dengan data empiris, dan menghambat orang
untuk mencapai tujuan pribadinya (Maultsby, 1984).






0 komentar:
Posting Komentar