Rabu, 04 April 2012

i'am komselor

KONSELING BERMAIN


II. 1 DEFINISI DAN KONSEP KONSELING BERMAIN
Dalam melakukan komunikasi dengan anak, kita seringkali kesulitan. Hal ini disebabkan anak tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menjelaskan permasalahannya. Seringnya, anak  justru akan terlihat ketakutan atau memperlihatkan penolakan jika orang dewasa mendekatinya dengan menggunakan bahasa verbal.
Salah satu waktu anak bisa berekspresi adalah saat mereka bermain.  Sebagaiman diungkap oleh Muro & Kottman (1995) bahwa bermain merupakan bentuk self expression bawaan anak.  Bermain terjadi secara alamiah pada anak dan merupakan suatu ekspresi spontan dari emosi dan pikiran-pikirannya.  Konselor tentu harus memanfaatkan situasi ini untuk mengeksplor emosi dan pikiran anak.
 Freud memandang bermain ekuivalen dengan bahasa orang dewasa. Sementara M. Klein (Muro & Kottman,1995) memandang lain. Dia berpendapat bahwa aktivitas bermain dapat diinterpretasi  langsung oleh konselor secara bebas (free association).
Permainan anak berkembang sesuai dengan usianya.  Misalnya  bermain dengan aspek sensory motor merupakan dua jenis bermain yang dilakukan oleh anak pada usia tiga tahun pertama ; sedangkan bermain simbolik  mencapai puncaknya pada usia empat dan lima tahun yang kemudian diikuti dengan semakin meningkatnya aktivitas permainan dengan aturan bermain konstruktif. Kecenderungan-kecenderungan perkembangan bermain tersebut memberikan suatu indikasi tentang bahan, program, dan aktivitas bermain yang perlu disediakan bagi keperluan pendidikan dan bimbingan konseling anak.
II. 2 POKOK-POKOK TEORI
·        BERMAIN HARUS SESUAI DENGAN TAHAPAN USIA ANAK
Pendidik seharusnya memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang bermain agar dapat mendukung dan menetapkan kegiatan bermain yang cocok untuk anak. Anak dengan tingkat usia yang berbeda memiliki minat bermain yang berbeda. Tahapan tersebut dapat diprediksi karena telah dilakukan penelitian yang panjang pada setiap tahapan usia anak. Tahapan tersebut secara umum dijabarkan sebagai berikut ;
1. Bayi – Toddler
Bermain lebih fokus pada keterampilan motorik, pemaksimalan panca indera, kegiatan eksplorasi objek, banyak melakukan gerakan sederhana, gerakan dilakukan tidak bertujuan dan dilakukan berulang-ulang, tidak/belum ada komunikasi, melakukan aktivitas yang sama namun tidak berhubungan dgn anak lain, konsentrasi bermain hanya dengan mainannya sendiri, dan belum mengenal konsep peraturan.
2. Anak-anak awal – akhir
Pada usia ini anak sudah mulai menunjukkan minat untuk bermain dengan anak lain, sering saling bertukar mainan, sama-sama belajar dengan anak lain untuk membuat peraturan dan bermain dengan peraturan, belajar untuk bekerja sama dalam satu aktivitas, sudah mampu membangun dan menciptakan sesuatu dengan benda, tujuan bermain adalah untuk memperoleh kepuasan pribadi, jika melakukan kegiatan bermain sambil bertanding, anak belum ada keinginan untuk menang, dan anak belajar untuk berhitung, membaca, menulis (kemampuan dasar akademik). 
3. Sekolah dasar
Pada tahap bermain ini, anak sangat tertarik untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan menciptakan mainannya sendiri (berkreasi), mulai menyukai kegiatan bermain yang menggunakan angka dan kode-kode rahasia, mulai menunjukkan siapa dirinya, keahliannya, talenta dan kemampuannya, sudah mulai memahami makna kata, huruf dan angka, sudah mampu membangun konsep kerjasama dan sudah mengenal rasa bersaing.
4. Memasuki remaja awal
Tahapan bermain memasuki remaja awal yaitu banyak bermain dengan permainan teratur dan terstruktur, bermain dengan peraturan (sport), memiliki motivaasi bermain untuk memperoleh kemenangan (menang berarti mampu mengikuti peraturan), kegiatan terfokus/minat pada kelompok, dan anak belajar untuk memahami lingkungan social.

KONSELING POST MODERN


2.1   DEFINISI
Kita telah memasuki dunia postmodern di mana kebenaran dan realitas sering dipahami sebagai sudut pandang yang dibatasi oleh konteks sejarah dan bukan sebagai objektif, fakta-fakta kekal. Modernis lebih percaya pada realitas independen dari setiap percobaan untuk mengamatinya, orang mencari terapi untuk masalah ketika mereka telah menyimpang terlalu jauh dari beberapa norma objektif. Sebaliknya Postmodernis, percaya pada realitas subyektif yang tidak ada proses observasi independen.
Postmodern adalah suatu kondisi dimana terjadi penolakan / ketidak percayaan terhadap segala hal yang mengarah kepada kebenaran tunggal, keuniversalan, keobjektifan (sesuatu apapun yang hendak dijadikan dasar untuk menilai benar – salahnya sebuah konsep / pengetahuan) atas suatu objek dan realita yang terjadi.
Postmodern mengadopsi narasi, pandangan konstruksionis sosial menyoroti bagaimana kekuasaan, pengetahuan, dan “kebenaran” yang dinegosiasikan dalam keluarga dan sosial lainnya dan konteks budaya (Freedman & Combs, 1996). Terapi ini, dalam bagian, sebuah badan reestablishment pribadi dari penindasan masalah eksternal dan kisah-kisah dominan yang lebih besar.
Postmodern berlangsung singkat (Brief), umumnya antara empat sampai lima sesi saja. Berfokus pada pemecahan masalah (solusi) yang menekankan pada sumberdaya atau kompetensi dan kekuatan – kekuatan konseli, bukan berfokus pada penyebab atau problem. Menekankan pada pandangan bahwa konseli adalah individu yang unik dan subjektif serta bahasa atau naratif yang dikonstruksikan sendiri oleh konseli, bukan menekankan pada realitas “objektif” realitas konsensual (realitas sebagaimana membangun bahasa, memelihara dan mengubah masing – masing tata pandang (worldview) individu. Dalam pemikiran postmodern, menggunakan bahasa dalam cerita-cerita, untuk menceritakan kisah-kisah, dan masing-masing kisah-kisah ini benar bagi orang yang mengatakannya. Setiap orang yang terlibat dalam suatu situasi memiliki perspektif tentang “realitas”.
2.2   PERSPEKTIF HISTORIS
PENDIRI PENDEKATAN MODERN TERAPI
INSOO KIM BERG : Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER : salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
MICHAEL WHITE : membantu pendirian bersama David Epston, ilmu pengobatan terapi naratif, bertempat di Dulwich di Adelaide, Australia. Cinta pada keluarga dan teman-teman, berenang, terbang dengan pesawat kecil, dan bersepeda. Mengantarkan banyak Bukunya: Terapi Naratif untuk tujuan Mengobati (1990), Karangan kehidupan: wawancara and ujian tulis (1995), dan Narratif untuk terapi kehidupan (1997).
DAVID EPSTON : Sebagai pembantu direktur pengembangan terapi Naratif dari pusat terapi keluarga di Auckland, Slandia baru, dan dia sebagai penulis dan guru dari ide-ide naratif, sebagai pelancong internasional, dosen pada pusat pelatihan di Australia, Eropah dan Amerika Utara. Profesional terhadap ancaman kehidupan anak-anak berpenyakit Asma, berjuang untuk kelompok wanita penyandang Anoreksia, dan melibatkan ayah yang dilepas oleh anak-anaknya. Penulis buku Makna Akhir Terapi Naratif (1990), Terapi Naratif untuk Anak dan Keluarga (1997). Suka bersepeda dan mencintai istrinya Anne di rumah pengasingan di sebuah pulau Waiheke.



2.3   POKOK-POKOK TEORI
POSTMODERN UMUMNYA MENGAC PADA 3 BIDANG ( Grenz, 1996 ) :
1.      Era historical (industry, tekn. informasi)
2.      Gerakan pada bidang seni (arsitektur, teater, literature, dunia lukis, performansi dsb)
3.      Kritik – kritik dalam bidang akademik terutama ilmu – ilmu sosial dan filsafat
PANDANGAN TENTANG SIFAT DASAR MANUSIA
1.      Manusia hidup dengan beranekaragam realitas (bahasa, cerita, ideologi) Pluralistik
2.      Tiada kebenaran tunggal
3.      Kebenaran bersifa kontekstual, subjektif
4.      Manusia berbekal metode ilmiah yang tepat dapat menemukan pengetahuan yang terpercaya (realible) dan sahih (valid) tentang klien dan masalah-masalahnya
Pada dasarnya, SFBC didasarkan pada pandangan yang positif dan optimistik tentang hakikat manusia (Corey, 2009; Gladding, 2009).
1.      Manusia adalah makhluk yang sehat dan kompeten. SFBC merupakan pendekatan konseling yang nonpatologis yang menekankan pentingnya kompetensi manusia daripada kekurangmampuan, dan kekuatan daripada kelemahannya.
2.      Manusia mampu membangun solusi yang dapat meningkatkan kehidupannya.
3.      Manusia memiliki kemampuan menyelesaikan tantangan dalam hidupnya.
4.      Bagaimanapun pengaruh lingkungan terhadap manusia, konselor meyakin bahwa saat dalam layanan konseling kliennya bahwa mampu menkonstruksi solusi
5.      terhadap masalah yang dihadapinya.

KONSELING KELUARGA


2.1   PENGERTIAN KONSELING KELUARGA
                Konseling Keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan pada individu anggota keluarga melalui system keluarga agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga. Konseling keluarga memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga dan memandang keluarga secara keseluruhan bahwa permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Konseling keluarga bertujuan membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan anggota keluarga. Membantu anggota keluarga agar dapat menerima kenyataan bahwa apabila salah seorang anggota keluarga memiliki permasalahan, hal itu akan berpengaruh terhadap persepsi, harapan, dan interaksi anggota keluarga lainnya. Memperjuangkan (dalam konseling), sehingga anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang guna mencapai keseimbangan dan keselarasan., serta mengembangkan rasa penghargaan dari seluruh anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain.
            Penanganan terhadap keluarga sebagai suatu system bertujuan untuk membantu anggota keluarga untuk pengembangan potensinya agar menjadi manusia yang berguna bagi keluarga dan bangsanya. Disamping itu membantu anggota keluarga yang mengalami gangguan emosi melalui system keluarga. Yaitu setiap anggota keluarga memberikan kontribusi positif dan pemahaman yang mendalam akan hakekat gangguan tersebut. Dengan kata lain keluargalah yang berjasa untuk membantu perkembangan anggotanya dan menyembuhkan anggota yang terganggu. Di Indonesia, Konseling Keluarga baru mulai mendapat pengertian dari masyarakat terutama sejak pesatnya perkembangan kota dan industrialisasi yang cenderung dapat menimbulkan stress keluarga antara lain disebabkan menggebunya anggota keluarga memenuhi kebutuhan ekonomi, sehingga mereka jarang berkumpul di rumah dan terjadi pergeseran nilai dengan begitu cepat sementara orang tua belum siap menerima dan masih berpegang dengan nilai-nilai lama.

2.2   SEJARAH KONSELING KELUARGA DI INDONESIA
            Perkembangan konseling keluarga di Indonesia tertimbun oleh semaraknya perkembangan BK di sekolah. Karena banyak sekali masalah-masalah siswa seperti kesulitan belajar, penyesuaian social, dan masalah perilaku siswa yang tidak dapat dipecahkan oleh guru biasa. Jadi, diperlukan guru BK untuk membantu siswa.
          Mengenai kasus keluarga, banyak juga ditemukan di sekolah seperti siswa yang menyendiri dan suka termenung. Beberapa indikator  perkembangan BK adalah sebagai berikut:
a)              Guru pembimbing tidak secara khusus menangani masalah keluarga, akan tetapi disambilkan dalam penanganan masalah kesulitan belajar, penyesuaian social, dan pribadi siswa yang akhirnya guru pembimbing menemukan masalah tersebut berkaitan dengan keadaaan social-psikologis keluarga.
b)             Pada tahun 1983, di Jurusan BK IKIP Bandung menjadikan konseling keluarga sebagaimana yang ada di Amerika Serikat. Orientasi konseling keluarga adalah pengembangan individu anggota keluarga melalui system keluarga yang mantap dan komunikasi antar anggota keluarga yang harmonis.

Beberapa Tokoh Konseling Keluarga
Ø   Virginia Satir
Adalah seseorang psikiatris pekerja social yang berafiliasi dengan Chicago Psychiatric Institute. Salah satu pemberian Satir yang besar adalah kemampuannya dalam menafsirkan maupun mempraktikan formulasi-formulasi secara kompleks yang terungkap dalam berbagai metodenya.

Ø   Jay Haley
Pada tahun 1962 Jay Haley bergabung dengan Satir  dan Jackson di MRI. Ia juga terlibat dalam berbagai riset yang banyak menyumbang pengembangan bidang Family Therapy. Tujuan Therapy menurut Haley ialah mendefinisikan dan mengubah hierarki keluarga yang dicapai melalui perjuangan kekuatan Therapeutik yang ditandai oleh seleksi bertujuan dari Therapis dan pelaksaan strategi interventif.
Ø   Salvadore Minuchin
Keluar dari MRI,Haley bergabung dengan Minuchin di Klinik Bimbingan Anak Philadelphia (tahun 60 an). Menurut Minuchin, faktor-faktor penting yang menentukan pola interaksi dalam keluarga ialah struktur keluarga, batas-batas wewenang anggota keluarga, proses system keluarga, dan pembagian tugas dalam keluarga.

2.3   POKOK – TEORI TEORI KONSELING KELUARGA
1.      PENDEKATAN PSIKOANALISIS
Pengertian psikoanalisis mencakup 3 aspek :
·         Sebagai metode penelitian proses psikis
·         Sebagai teknik mengobati gangguan psikis
·         Sebagai teori kepribadian
Struktur kepribadian terdiri dari id, ego, dan super ego.
2.      PENDEKATAN TERPUSAT PADA KLIEN
Rogers menekankan bahwa klien secara individu dalam keanggotaan kelompok keluarga akan mencapai kepercayaan diri dimana dia mengatakan bahwa anggota keluarga dapat mempercayainya. Hal ini terjadi jika adanya kejujuran, keaslian, memahami, menjaga, menerima, menghargai secara positif dan belajar aktif.
Fungsi konselor yaitu sebagai fasilitator untuk memudahkan membuka dan mengarahkan jalur-jalur komunikasi  apabila dalam kehidupan keluarga tersebut pola- pola komunikasi telah berantakan bahkan terputus.
3.      PENDEKATAN EKSISTENSIAL
Dalam konseling keluarga konselor gestalt beranggapan bahwa pendekatan ini amat dekat dengan pendekatan eksistensial fenomenologis.yang dalam deskripsinya menekankan perhatiannya pada perjuangan (encounter )atau interaksi interpersonal dalam situasi terapeutik disini dan sekarang dan konselor mengembangkan tujuan konseling dengan cara berpartisipasi sebagai manusia. Pendekatan ini memiliki asumsi dasar dari keluarga yaitu bahwa anggota keluarga membentuk nasibnya sendiri melalui pilihan- pilihan yang dibuatnya sendiri.
Keluarga yang datang kepada konselor adalah dalam keadaan pola pola destruktif atau mengalami hambatan dalam cara kehidupan bersama atau yang sedang menghadapi konflik yang tidak dapat diatasi oleh anggota keluarga dengan adanya kemauan untuk mengubah diri dalam situasi hubungan interpersonalnya.
4.      PENDEKATAN GESTALT
Kempler (1982) mendefinisikan konseling keluarga dengan pendekatan Gestalt sebagai suatu model difokuskan pada saat sekarang ini (present moment) dan pada pengalaman keluarga yang dilakukannya di dalam sesi-sesi konseling.
Jadi pengertian eksperiential adalah bahwa sesi konseling yang sedang berlangsung digunakan sebagai laboratorium di mana kita memperoleh pengalaman pengalaman baru. Konseling itu lebih bersifat action counseling.
Yang lebih ditekankan lagi adalah keterlibatan konselor dalam keluarga. Kempler bahkan beranggapan bahwa konseling keluarga eksperiensial sebenarnya adalah  personal pribadi sebagai manusia bagi konselor itu dan masalah teknik cenderung tak menjadi yang terpenting dalam sesi-sesi itu. Tidak ada alat atau skill, yang ada hanyala hubungan orang dengan orang, manusia dengan manusia. Karena itu yang penting bagi konselor adalah mendengarkan suara dan emosi  klien. Konselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya dalam perjumpaan antara sesama. Karena itu kadang-kadang Kempler senang dengan style directive dan confrontatitnya, sebab hubungan mereka akrab.
Pendekatan gestalt memberikan perhatian pada apa yang dikatakan anggota keluarga bagaimana mengatakannya apa yang terjadi ketika mereka berkata itu dan bagaimana ucapan tersebut bila di hubungkan dengan perbuatannya serta apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya.yang lebih ditekankan lagi ialah keterlibatan konselor  dalam keluarga.
5.      PENDEKATAN ADLERIAN
Adler mempunyai sejarah yang panjang dalam pekerjaannya dengan keluarga dan studi tentang dinamika keluarga. Adler memperkenalkan kelompok-kelompok keluarga dan klinik bimbingan anak di Vienna.
·           Tujuan konseling keluarga menurut aliran Adler
Tujuan dasar pendekatan ini adalah untuk mempermudah perbaikan hubungan anak-anak dan meningkatkan hubungan di dalam keluarga, mengajarkan anggota keluarga bagaimana menyesuaikan diri yang lebih baik terhadap anggota keluarga yang lainnya dan bagaimana hidup bersama dalam keluaga sosial yang sederajat (sesama manusia) sebagai bagian dari tujuan ini.

KONSELING REBT


1.Perspektif Historis
Konseling rasional-emotif-perilaku dikembangkan oleh Albert Ellis. Di antara para ali kognitif lainnya Albert Ellis tergolong yang paling populer. Ellis memiliki asumsi bahwa manusia memainkan peran penting dalam menyebabkan kesulitannya sendiri melalui cara mereka dalam menginterpretikan situasi atau peristiwa lingkungan. Dengan kata lain, kognisi manusi merupakan sumber kesulitannya. KREP merupakan pengembangan dari konseling rasional-emosi (rational emotif counseling)-yang populer dengan akronim RET- yang juga dikebangkan oleh Ellis sebelumnya, yakni pada tahun 1950-an. KREP pada dasarnya menggambarkan adanya perubahan dalam keyakinan yang dipegang oleh Ellis, yakni dengan memasukkan komponen perilaku sebagai bagian dari sistem teorinya.
            Melalui KREP Ellis mengakui bahwa kognisi, emosi, dan perilaku saling berinteraksi dan saling mempengaruhi (Bond & Dreyden, 1996). Jika RET hanya menekankan pada aspek  kognitif dan emosi, maka melalui KREP Ellis mulai memberikan respek pada aspek perilaku (tindakan) dalam proses perlakuan. Dapat dikatakan dibandingkan dengan  sistem teori Ellis yang terdahulu, KREP tampak lebih humanis. Meskipun demikian KREP tetap menekankan pada peran penting kognisi dalam mempengaruhi fungsi manusia. Dalam hal ini, KREP menggunakan asumsi bahwa mengubah kognisi dan pernyataan diri menjadi lebih emosional merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan fungsi tiga aspek diri tersebut. Karena asumsinya itu maka KREP dapat diklasifikasikan ke dalam pendekatan integratif. Seperti halnya ahli-ahli lain dari perspektif humanistik dan perilaku, Ellis mengembangkan teorinya karena tidak puas dengan model pedekatan psikoanalisa yang menurutnya seringkali tidak efektif. Secara teknis, terdapat 2 varian KREP : umum dan elegan. KREP umum yang menusatkan perhatian pada penanganan masalah-masalah praktis dan mendesak, sedangkan elegan yang digunakan untuk  membantu individu mencapai perubahan emosional dan filosofis yang intensif. Ellis menggunakan KREP untuk menangani kesulitan-kesulitan yang dialaminya di  hari tuannya, yakni kemampuan yang disebabkan karena menderita diabetes, mata dan menurunnya pendengaran, dan ketidakmampuan yang lain (Ellis, 1997).
            Ellis adalah seorang pria dengan kepribadian yang kuat. Sebagaimana digambarkan oleh Dreyden. Proponen lain dalam  pengembangan KREP, Ellis adalah orang yang humoris, dan flamboyan meskipun juga memperlihatkan rasa penakut. Ellis juga digambarkan sebagai sosok yang sangat terbuka untuk mendiskusikan kehidupan pribadinya dan seringkali menggunakan dirinya sebagai suatu model peran bagi kerjanya.

2.Pokok-pokok Teori           
2.3.1 Teori                                                     
                  Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Ø  Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Ø  Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Ø  Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variabel antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
2.3.2 Konsepsi Tentang Manusia
KREP adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia
dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai,bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhyul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungsional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengkondisian awal. KREP menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tidak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Bagaimanapun, menurut KREP, manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain (Ellis, 1973a, hlm. 175-176)
KREP  menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara
stimultan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Sebagaimana dinyatakan oleh Ellis (1973, hlm.313), “ketika mereka beremosi, mereka juga berpikir dan bertindak. Ketika mereka bertindak, mereka juga berpikir dan beremosi. Ketika mereka berpikir, mereka juga beremosi dan bertindak. Dalam rangka memahami tingkah laku menolak diri, orang harus memahami bagaimana seseorang beremosi, berpikir, mempersepsi, dan bertindak.
Tentang sifat manusia, Ellis (1967, hlm.79-80) menyatakan bahwa baik pendekatan psikoanalitik Freudian maupun pendekatan eksistensial telah keliru dan bahwa metodologi-metodologi yang dibangun di atas kedua sistem psikoterapi tersebut tidak efektif dan tidak memadai. Ellis menandaskan bahwa pandangan Freudian tentang manusia itu keliru karena pandangan eksistensial humanistik tentang manusia, sebagian benar. Menurut Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikan secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri.
2.3.3 Sistem Teori                                                                                                                
a.      Asumsi-asumsi tentang gangguan perilaku
       Pandangan tentang gangguan perilaku dalam KREP dirumuskan oleh Ellis dalam bentuk penerimaan diri dan akar gangguan emosional. Gangguan emosional seringkali ditemukan dalam diri orang-orang yang kurang bisa menerima diri atau orang yang menerima dirinya secara kondisional. Mereka tidak menilai dirinya sebagaimana adanya tetapi lebih didasarkan pada prestasi yang dicapainya.Sebagai contoh, orang mungkin membuat penerimaan diri diri secara kondisional sebagai berikut : “jika saya gagal, maka saya ini adalah orang yang tak berguna dan tak berharga “.Menurut Ellis, orang harus memiliki pandangan yang realistis tentang kekuatan dan kelemahannya. Manusia akan menjadi lebih berbahagia jika mereka dapat menerima, menilai, dan meyakini diri mereka bahkan ketika mereka kecewa dengan apa yang diperolehnya atau mengalami peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi dalam kehidupannya. Orang seharusnya menilai pikiran dan perilakunya bukan dirinya.
       Orang dapat mengalami gangguan perilaku karena mereka menerapkan cara-cara berpikir yang tidak lurus, tidak logis, atau tidak rasional. Dengan kata lain, gangguan perilaku berakar pada cara berpikir individu. Menurur KREP, karena pikiran-pikiran yang tidak realistis atau pikiran tidak rasional begitu luas maka orang harus memiliki kecenderungan biologis yang kuat untuk berpikir tidak lurus dan yakin bahwa hidup harus berjalan seperti adanya. Meskipun demikian, kecenderungan untuk berpikir irasional diantara manusia itu bisa sagat bervariasi, dan variasi ini sebagian disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang dan sebagian berkaitan dengan gaya berpikir bawaan.
       Para konselor KREP mengakui bahwa trauma dan kesulitan pada masa anak-anak dapat mengarahkan orang untuk mengembangkan kecenderungan berpikir dan bertindak dalam cara yang merefleksikan kesulitan-kesulitan awal tersebut. Gangguan emosional, oleh karena itu berakar dari kombinasi antara kecenderungan bawaan dan dengan pemikiran irasional dan pengalaman hidupnya. Gangguan emosional ini selalu ditandai oleh dua tingkat kecemasan, yakni kegelisahan yang berkaitan dengan kesulitan situasional seperti pobia, dan kecemasan ego yang terjadi ketika orang merasa terancam karena merasa bersalah atau tidak mampu (Ellis, 1991). Guna menangani dua tingkat kecemasan tersebut, KREP menyediakan dua varian yang paralel, yakni KREP umum dan KREP elegan. Varian KREP  yang pertama digunakan untuk menangani tipe kecemasan pertama, dan varian KREP Yang kedua digunakan untuk menangani tipe kecemasam kedua.

b.      Mengikuti pandangan humanisme sekuler
Menurut seligman(2001), KREP tampak mengikuti pandangan humanisme sekuler karena menekankan pada persepsi dan tanggung jawab individu. Humanisme sekuler memandang manusia sebagai individu yang unik, yang selalu memiliki pilihan untuk hidup di dalam lingkungan sosial yang saling mempengaruhi. Humanisme sekuler juga memandang manusia dengan cara menilai apakah tindakannya tergolong rasional atau tidak rasional dan bukan atas dasar baik atau buruk. Berikut adalah uraian singkat dari beberapa konsep khusus pandangan humanisme sekuler dari Ellis:
·         KREP memiliki dimensi religius. Ellis sebenarnya tidak menentang religinya tetapi lebih pada sistem ajarannya yang dogmatis, kaku dan antihumanis. Bahkan ellis mengaku bahwa keyakinan religius dapat membantu orang untuk menemukan arahan yang bermakna dalam kehidupannya.
·         KREP merupakan pendekatan yang kompatibel. KREP merupakan metode yang kompatibel dengan berbagai pendekatan konseling dan psikoterapi modern. KREP memiliki penekanan pada nilai intrinsik individu. Penekananya pada upaya membantyu individu dalam menemukan makna hidup juga kompatibel dengan pendekatan eksistensial. KREP juga merupakan suatu pendekatan fenomenologis yang mengakui persepsi subyektif manusia menjadi sumber dari kesulitannya.
·         Pikiran sebagai jalan menuju perubahan. Orang perlu mengakui dan menerima bahwa mereka bertanggung jawab bagi kesulitan emosional mereka sendiri. Meskipun KREP mengakui pengaruh pengalaman traumatis pada kesulitan sekarang, perlakuan tetap harus diarahkan untuk membantu individu menerima pengalamannya, berhenti menyalahkan diri, dan memusatkan perhatian pada saat sekarang dan masa depan dan bukan masa lampau.
·         Insight. Insight tentang akar permasalahan dan gangguan emosional bukan merupakan bagian esensial dalam KREP, bahkan insight dipandang dapat merusak upaya menuju perubahan. Bentuk insight positif dapat mendorng perubahan yakni insight untuk menyadari bahwa kita perlu bekerja keras untuk membuat perubahan.
·         Memusatkan perhatian pada saat sekarang. KREP memusatkan perhatian pada pikiran- pikiean sekarang meskipun tidak mengabaikan masa lampau. Ini dipandang lebih bermakna dan dapat mengembangkan rapport.
·         Mengakui emosi. KREP mendorong konseli untuk mengungkapkan, menyadari, dan mengakui emosi-emosinya agar lebih mudah untuk mengenali dan mengubah keyakinan-keyakinan irasionalnya.
·         Memberikan perhatian pada perilaku. Melalui KREP, ellis mulai memberikan perhatian yang luas terhadap dimensi perilaku.namun meskipun mengakui bahwa antara perilaku, emosi dan kognisi memiliki hubungan tinggal balik, pikiran tetap dipandang sebagai aspek primerdan menjadi jalan utama menuju terjadinya perubahan pada tindakan dan emosi

c.       Keyakinan irasional
       Telah dikemukakan, KREP memegang asumsi bahwa keyakinan irasional menjadi faktor yang menyebabkan kesulitan. Untuk memperoleh gambaran tentang keyakinan irasional dalam sistem KREP, ada enam bentuk keyakinan yang dikemukakan oleh Ellis dan Dryden (1997), yaitu :
·         Pengamatan nonevaluatif : individu yang berlari ke arah sebuah bus yang sedang berjalan dari pinngir jalan.
·         Inferensi nonevaluatif : individu mungkin berusaha untuk mengejar atau menangkap bus
·         Positive preferential evaluations : Kawan saya banyak tersenyum dan keliatan gembira ketika dia sedang berjalan dengan saya, sehingga saya menganggap ia senang berjalan dengan saya.
·         Positive musturbator : Saya selalu diminta untuk menjadi seorang penerima tamu dalam suatu acara perjamuan, jadi saya pikir jika saya adalah orang yang menyenangkan.
·         Negative porefrential evaluations : teman saya tampak gelisah dan selalu melihat arlojinya, oleh karena itu saya menduga jika ia sudah inhin berhenti berbincang dengan saya.
·         Negative musturbatory evaluations : Saya tidak berhasil menarik hatinya dan menjadikan ia sebagai kekasih saya ; oleh karena itu saya merasa gagal dan ini sungguh memalukan.

       Dua bentuk keyakinan yang pertama merupakan keyakinan netral dan keyakinan nonjudmental yang disebut oleh Ellis sebagai kognisi dingin. Evaluasi prefential positif maupun negatif mungkin akurat atau tidak akurat, tetapi ia berlandaskan pada realita, merefleksikan preferensi dan bukan pendirian, dan tidak absolut. Oleh karena itu keduanya dapat dipandang sebagai keyakinan rasional dan kognisi yang hangat. Evaluasi musturbatory positif dan negatif merupakan keyakinan yang selalu menggeneralisasikan, menilai diri dari orang lain, dan absolut. Keduanya meripakan kognisi panas yang berpotensi menyebabkan kesulitan atau gangguan emosional.
       KREP mengidentifikasikan pikiran dan keyakinan kedalam bentuk keyakinan rasional (rational beliefe = rB) dan keyakinan irasional (irrational beliefe = iB. Keyakinan irasional seringkali melibatkan kata-kata yang menuntut seperti “harus” atau “seharusnya” berkenaan dengan isu-isu keberhasilan, persetujuan, keadilan, kesenangan, atau bantuan. Sebaliknya, keyakinan irasional cenderung evaluatif dan ekstrim atau absolut. Keyakinan irasional merepresentasikan suatu logika yang salah, tidak konsisten dengan data empiris, dan menghambat orang untuk mencapai tujuan pribadinya (Maultsby, 1984).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites