Rabu, 04 April 2012

KONSELING ADLERIAN


A.  PERSPEKTIF HISTORIS
Konseling Adlerian di kembangkan oleh Alfred Adler dan para pengikutnya berdasarkan teori psikologi individual Adler. Pada awalnya Adler adalah murid Freud yang kemudian memisahkan diri bersama- sama dengan murid Freud yang lain, Carl G Jung, karena tidak sependapat dengan dengan beberapa konsep teortik freud khususnya tentang seksualitas dan determinan biologis atau genetik Jung sendiri juga mengembangkan suatu teori psikologi yang agak berbeda dengan Freud, yang ia beri nama psikologi analitik. Antara teori Freud dan Adler memiliki perbedaan dalam beberapa hal. Teori freud memusatkan perhatian pada psikodinamika individual pada individu-individu neurotik, sedangkan Adler lebih memusatkan perhatian pada bidang sosial dan politikdan masyarakat umum.

Pandangan Adler menekankan pada kebulatan kepribadian ( unity of personality ) yang menegaskan bahwa manusia hanya dapat di pahami sebagai suatu entitas yang lengkap dan utuh. Pandangan ini mendukung sifat keterahan perilaku ( pada tujuan tertentu ), yang menegaskan bahwa apa yang ingin dituju atau di capai oleh manusia adalah lebih penting daripada apa yang di tinggalkan atau darimana mereka berasal. Adler juga memandang manusia sebagai ciptaan dan pencipta kehidupannya sendiri: dalam arti bahwa setiap manusia mengembangkan gaya hidup yang unik untuk mencapai tujuan tertentu. Gaya hidup tersebut juga sebagai ekspresi dari tujuan yang ingin dicapainya. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada diri kita merupakan hasil ciptaan ( tindakan ) kita sendiri dan bukan hasil dari bentukan pengalaman masa kanak-kanak.
Adler meninggal pada tahun 1973, tetapi ajaarannya masih terus di lanjutkan dan di sebar luaskan oleh Rudolph Dreikus di kawasan Amerika Serikat, khususnya penerapan di dunia pendidikan. Konseling individual, konseling dan kelompok dan konseling keluarga. Minat terhadap ajaran Adler mulai muncul dan berkembang ketika banyak lembaga masyarakat maupun institusi nasional dan internasional menawarkan pelatihan dalam teknik-teknik Adlerian ( Corey, 1985). Bahkan pada tahun 1977, terdapat suatu organisasi  Adlerian di beberapa Negara seperti Austria, Denmark, Prancis, Jerman, Inggris, Junani, Israel, Italia, Swiss, dan Amerika ( Manester & Corsini, 1982 ).

B.  KONSEPSI TENTANG MANUSIA
Adler meyakini bahwa individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan inferior. Inferiorita bagi Adler diartikan sebagai perasaan lemah dan tidak cakap dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Inferiorita merupakan suatu perasaan yang menggerakkan orang untuk berjuang menjadi superiorita.
Pada tahun 1908, Adler (Hall & Lindzey, 1993) telah mencapai kesimpulan bahwa agresi lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresi itu diganti dengan ‘hasrat akan kekuasaan’. Adler mengidentifikasikan kekuasaan dengan sifat maskulin dan kelemahan dengan sifat feminim. Pada tahap pemikiran inilah dia mengemukakan ide tentang ‘protes maskulin’, yaitu suatu bentuk kompensasai berlebihan yang dilakukan baik oleh pria maupun wanita, juga mereka merasa tidak mampu dan rendah diri. Kemudian, Adler menggantikan ‘hasrat akan kekuasaan’ dengan ‘perjuangan ke arah superioritas yang tetap dipakainya untuk seterusnya. Jadi, ada tiga tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yaitu menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
Superioritas menurut Adler merupakan suatu gerak yang mengarahkan manusia ke jenjang yang lebih sukses, terutama kesuksesan dalam konteks sosial. Hal ini kemudian diistilahkannya dengan ‘perjuangan menjadi sukses’, suatu perjuangan yang dilandasi oleh motivasi sosial yang kuat yang telah berkembang sebelumnya. Adler menegaskan bahwa perjuangan ini pada dasarnya merupakan bawaan, bahwa ia menjadi bagian internal dari hidup, bahkan merupakan hidup itu sendiri. Lebih lanjut, dia berasumsi bahwa semua perjuangan tersebut-meski memiliki motivasi yang berbeda-, tetapi semuanya diarahkan menuju tujuan final (final goal).

C.  POKOK-POKOK TEORI
      Sistem teori konseling Adlerian lebih menekankan pada determinan sosial dalam membentuk perilaku, alih-alih faktor –faktor biologis. Pendekatan Adler juga dikatakan bersifat teleologis. Pandangan teleologis ini mengimplikasikan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang termotivasi oleh dorongan-dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang memiliki dimensi sosial. Berikut ini akan di paparkan dua aspek penting dalam teori konseling Adlerian yang meliputi pandangan tentang sifat dasar manusia dan sistem teori secara garis besar.
1.      Pandangan tentang sifat dasar manusia
Seperti halnya Freud, Adler juga mengakui pentingnya masa lima tahun pertama kehidupan dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Namun, meskipun ia mengakui bahwa faktor-faktor biologis dan fisiologis memberikan arahan  pada perkembangan, individu juga memiliki kemampuan bawaan untuk mengarahkan dirinya sendiri. Bagi Adler, faktor bawaan dan pengalaman awal kurang penting dibandingkan dengan “ apa yang dilakukan oleh individu pada dirinya. “ Seligman, 2001: 78). Adler memiliki keyakinan bahwa semua perilaku selalu terarah pada suatu tujuan ( goal Directed ) dan bahwa manusia dapat menyalurkan perilakunya dalam cara-cara yang mendorong perkembangan. Bagi Adler apa yang penting bagi manusia adalah mencapai keberhasilan dan menemukan makna kehidupan. Upaya ke arah itu menjadi faktor penentu perkembangan.
Adler juga memandang manusia sebagai memiliki dorongan untuk  menjadi orang yang berhasil. Adler juga memiliki keyakinan bahwa perilaku manusia harus dipelajari dari sudut pandang yang holistik. Pada usia antara 4-5 tahun, anak-anak sudah memiliki kesimpulan umum tentang hidup dan cara yang “ terbaik” untuk menghadapi masalah hidup. Mereka mendasarkan kesimpulan itu pada persepsi yang biasa tentang peristiwa-peristiwa dan interaksi yang terjadi atau berlangsung disekelilingnya dan kemudian membentuk suatu landasan bagi gaya hidupnya( Lifestyl ). Gaya hidup ini bersifat unik pada setiap individu dan mempresentasikan pola-pola perilaku yang akan menjadi dominan di sepanjang kehidupannya. Gaya hidup ini jarang sekali dapat berubah tanpa adanya intervensi dari orang lain. Konstelasi keluarga dan urutan kelahiran memberikan pengaruh yang kuat pada pembentukan gaya hidup ini.
Adler juga memandang manusia memiliki minat sosial yang bmenjadi barometer bagi mental yang sehat ( Adler,1938,1964 : dalam Thompson, Rudolph,&Henderson,2004). Minat sosial di konseptualisasikan sebagai suatu bentuk perasaan terhadap dan kooperasi dengan orang lain, suatu perasaan untuk memiliki dan terlibat dengan orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan umum kemasyarakatan.
2.      Sistem teori

a.       Teori Adler diklasifikasikan ke dalam perspektif fenomenologis
Meskipun Adler adalah seorang psikodinamik,namun teori psikoindividualnya dapat dimasukkan ke dalam perspektif fenomenologis. Karakteristik fenomenologis ini tampak dari pandangan Adler yang menekankan pentingnya persepsi subyektif individu terhadap realita. Bagi Adler kerangka acuan internal atau persepsi subyektif individu lebih penting daripada realitas obyektif. Dalam hal ini Adler melihat setiap orang adalah individu yang unik dan hanya dengan memahami persepsi subyektif individu tentang lingkungan, logika pribadi, gaya hidup, dan tujuan hidupnya maka kita dapat sepenuhnya memahami siapa jati diri individu tersebut. Inilah esensi psikologi individual Adler. Kita juga dapat memahami teori konseling Adlerian dari konsep-konsep Adler tentang rasa percaya diri,konstelasi keluarga, gaya hidup, dan minat sosial. Berikut adalah uraian tentang konsep-konsep tersebut.
b.      Teori Adlerian bersifat Holistik

Pendekatan Adlerian didasarkan pada  suatu pandangan holistik tentang manusia. Kata individual dalam konstruk “ psikologi individual” bukan mengimplikasikan bahwa pendekatan ini memusatkan perhatian pada individu. Tetapi memandang individu sebagai satu kesatuan (unity) yang dalam hal ini diidentikkan dengan kebulatan ( wholeness). Menurut Adler, manusia tidak bisa di pisahkan atau di bagi-bagi ke dalam bagian-bagian yang diskrit, dan oleh karenanya kepribadian merupakan suatu kesatuan ( unified) dan dapat dipahami hanya jika di pandang sebagai satu kebulatan. Satu implikasi dari pandangan ini adalah bahwa konseli di pandang sebagai suatu bagian integral dari sebuah sistem sosial. Konselor Adlerian harus memusatkan perhatian pada fraktor-faktor interpersonal ( bukan intrapersonal) dan situasi sosial konseli.

c.       Perasaan rendah diri ( inferioritas ) sebagai determinan perilaku / perkembangan
Perasaan rendah diri ( inferiority) merupakan satu dimensi dari tahun-tahun awal kehidupan yang diyakini oleh Adler menjadi faktor yang memainkan peran penting dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Perasaan ini hampir di alami oleh semua anak. Pada awalnya setiap anak mempersepsi dirinya sebagai entitas yang begitu kecil dan tak berdaya, khususnya jika dibandingkan dengan orang tua dan saudara-saudara mereka.
Di samping perasaan rendah diri, cara-cara yang digunakan oleh anak-anaak untuk  menangani perasaan rendah dirinya juga menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi perilaku dan perkembangan dirinya sebagai contoh, anak yang menangani perasaan rendah dirinya dengan cara melibatkan dirinya dengan orang lain, membentuk kemampuan, dan membuat pilihan yang kreatif cenderung lebih dapat mencapai perkembangan yang sehat. Sebaliknya, anak yang manja dan tidak mau berjuang untuk memperoleh kemampuan diri cenderung sulit untuk mencapai perkembangan yang positif. Mereka ini menjadi tak berdaya , tergantung, dan mudah menyerah. Jadi dalam konstrruk Adlerian, perasaan rendah diri bukan merupakan suatu keadaan yang negatif tetapi justru menjadi motivasi untuk menguasai lingkungan. Kita berusaha menangani perasaan rendah dengan menemukan cara-cara yang dapat kita gunakan untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan dalam hidup kita, bukan sebaliknya. Dalam pandangan Adler stiap manusia memiliki tujuan untuk beralih dari perasaan inferior menjadi superior.
d.      Ajaran tentang gaya hidup
Gaya hidup ( life style) merupakan suatu cara unik yang digunakan oleh setiap individu untuk menangani perasaan rendah diri dan mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Gaya hidup individu sebagian dipengaruhi oleh komposisi dan pola interaksi dalam keluarga. Grey ( 1998) memandang gaya hidup sebagai suatu yang sangat mendasar dari semua konsep Adler, dan menggambarkannya sebagai totalitas dari semua sikap dan aspirasi individu, suatu perjuangan yang mengarahakan individu untuk mencapai tujuan. Meskipun tujuan tersebut hampir selalu melibatkan superioritas, kompetensi dan penguasaan, setiap orang memiliki imej ( yang seringkali tidak disadari) tentang apa yang menjadi tujuannya. Adler menggunakan istilah fictional finalism untuk menggambarkan tujuan sentral yang diimajinasikan untuk mengarahkan perilaku. Adler yakin bahwa tujuan ini telah terbentuk dengan kokoh pada usia antara enam hingga delapan tahun dan akan tetap konstan di sepanjang kehidupan individu
e.Minat sosial
Dari perspektif Adler, perkembangan dapat dijelaskan melalui dinamika psikososial. Tujuan dan gaya hidup individu akan memberikan pengaruh pada cara penyesuaian dirinya. Individu yang dapat menyesuaikan diri pada umumnya memiliki logika pribadi yang merefleksikan minat social, sedangkan individu yang kurang berhasil dalam menyesuiakan diri cenderung lebih mementingkan tujuan mereka sendiri dan kurang memperhatikan kepentingan konteks sosialdan kebutuhan orang lain. Individu dipandang memiliki fithrah sebagai makhluk social, yakni entitas yang peduli dengan konteks social. Jika individu menyadari bahwa dirinya menjadi bagian dari komunitas manusia, maka perasaan inferior, alinasi , dan cemas akan menurun pada gilirannya mereka akan mengembangkan perasaan memiliki dan mencapai kebahagiaan hidup.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites