A. PERSPEKTIF HISTORIS
Konseling Adlerian di kembangkan
oleh Alfred Adler dan para pengikutnya berdasarkan teori psikologi individual
Adler. Pada awalnya Adler adalah murid Freud yang kemudian memisahkan diri
bersama- sama dengan murid Freud yang lain, Carl G Jung, karena tidak
sependapat dengan dengan beberapa konsep teortik freud khususnya tentang
seksualitas dan determinan biologis atau genetik Jung sendiri juga
mengembangkan suatu teori psikologi yang agak berbeda dengan Freud, yang ia
beri nama psikologi analitik. Antara teori Freud dan Adler memiliki perbedaan
dalam beberapa hal. Teori freud memusatkan perhatian pada psikodinamika
individual pada individu-individu neurotik, sedangkan Adler lebih memusatkan
perhatian pada bidang sosial dan politikdan masyarakat umum.
Pandangan Adler menekankan pada
kebulatan kepribadian ( unity of personality ) yang menegaskan bahwa manusia
hanya dapat di pahami sebagai suatu entitas yang lengkap dan utuh. Pandangan
ini mendukung sifat keterahan perilaku ( pada tujuan tertentu ), yang
menegaskan bahwa apa yang ingin dituju atau di capai oleh manusia adalah lebih
penting daripada apa yang di tinggalkan atau darimana mereka berasal. Adler
juga memandang manusia sebagai ciptaan dan pencipta kehidupannya sendiri: dalam
arti bahwa setiap manusia mengembangkan gaya hidup yang unik untuk mencapai
tujuan tertentu. Gaya hidup tersebut juga sebagai ekspresi dari tujuan yang
ingin dicapainya. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada diri kita merupakan
hasil ciptaan ( tindakan ) kita sendiri dan bukan hasil dari bentukan
pengalaman masa kanak-kanak.
Adler meninggal pada tahun 1973,
tetapi ajaarannya masih terus di lanjutkan dan di sebar luaskan oleh Rudolph
Dreikus di kawasan Amerika Serikat, khususnya penerapan di dunia pendidikan.
Konseling individual, konseling dan kelompok dan konseling keluarga. Minat
terhadap ajaran Adler mulai muncul dan berkembang ketika banyak lembaga
masyarakat maupun institusi nasional dan internasional menawarkan pelatihan
dalam teknik-teknik Adlerian ( Corey, 1985). Bahkan pada tahun 1977, terdapat
suatu organisasi Adlerian di beberapa
Negara seperti Austria, Denmark, Prancis, Jerman, Inggris, Junani, Israel,
Italia, Swiss, dan Amerika ( Manester & Corsini, 1982 ).
B. KONSEPSI TENTANG MANUSIA
Adler
meyakini bahwa individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang
mengaktifkan perasaan inferior. Inferiorita bagi Adler diartikan sebagai
perasaan lemah dan tidak cakap dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan.
Inferiorita merupakan suatu perasaan yang menggerakkan orang untuk berjuang
menjadi superiorita.
Pada tahun
1908, Adler (Hall & Lindzey, 1993) telah mencapai kesimpulan bahwa agresi
lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresi itu diganti dengan
‘hasrat akan kekuasaan’. Adler mengidentifikasikan kekuasaan dengan sifat
maskulin dan kelemahan dengan sifat feminim. Pada tahap pemikiran inilah dia
mengemukakan ide tentang ‘protes maskulin’, yaitu suatu bentuk kompensasai
berlebihan yang dilakukan baik oleh pria maupun wanita, juga mereka merasa
tidak mampu dan rendah diri. Kemudian, Adler menggantikan ‘hasrat akan
kekuasaan’ dengan ‘perjuangan ke arah superioritas yang tetap dipakainya untuk
seterusnya. Jadi, ada tiga tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final
manusia, yaitu menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
Superioritas
menurut Adler merupakan suatu gerak yang mengarahkan manusia ke jenjang yang
lebih sukses, terutama kesuksesan dalam konteks sosial. Hal ini kemudian
diistilahkannya dengan ‘perjuangan menjadi sukses’, suatu perjuangan yang
dilandasi oleh motivasi sosial yang kuat yang telah berkembang sebelumnya.
Adler menegaskan bahwa perjuangan ini pada dasarnya merupakan bawaan, bahwa ia
menjadi bagian internal dari hidup, bahkan merupakan hidup itu sendiri. Lebih
lanjut, dia berasumsi bahwa semua perjuangan tersebut-meski memiliki motivasi
yang berbeda-, tetapi semuanya diarahkan menuju tujuan final (final goal).
C. POKOK-POKOK TEORI
Sistem teori konseling Adlerian
lebih menekankan pada determinan sosial dalam membentuk perilaku, alih-alih
faktor –faktor biologis. Pendekatan Adler juga dikatakan bersifat teleologis.
Pandangan teleologis ini mengimplikasikan bahwa manusia merupakan makhluk
sosial yang termotivasi oleh dorongan-dorongan untuk mencapai tujuan tertentu
yang memiliki dimensi sosial. Berikut ini akan di paparkan dua aspek penting
dalam teori konseling Adlerian yang meliputi pandangan tentang sifat dasar
manusia dan sistem teori secara garis besar.
1. Pandangan
tentang sifat dasar manusia
Seperti halnya Freud, Adler juga
mengakui pentingnya masa lima tahun pertama kehidupan dalam mempengaruhi
perkembangan manusia. Namun, meskipun ia mengakui bahwa faktor-faktor biologis
dan fisiologis memberikan arahan pada
perkembangan, individu juga memiliki kemampuan bawaan untuk mengarahkan dirinya
sendiri. Bagi Adler, faktor bawaan dan pengalaman awal kurang penting
dibandingkan dengan “ apa yang dilakukan oleh individu pada dirinya. “
Seligman, 2001: 78). Adler memiliki keyakinan bahwa semua perilaku selalu
terarah pada suatu tujuan ( goal Directed ) dan bahwa manusia dapat menyalurkan
perilakunya dalam cara-cara yang mendorong perkembangan. Bagi Adler apa yang
penting bagi manusia adalah mencapai keberhasilan dan menemukan makna
kehidupan. Upaya ke arah itu menjadi faktor penentu perkembangan.
Adler juga memandang manusia
sebagai memiliki dorongan untuk menjadi
orang yang berhasil. Adler juga memiliki keyakinan bahwa perilaku manusia harus
dipelajari dari sudut pandang yang holistik. Pada usia antara 4-5 tahun,
anak-anak sudah memiliki kesimpulan umum tentang hidup dan cara yang “ terbaik”
untuk menghadapi masalah hidup. Mereka mendasarkan kesimpulan itu pada persepsi
yang biasa tentang peristiwa-peristiwa dan interaksi yang terjadi atau berlangsung
disekelilingnya dan kemudian membentuk suatu landasan bagi gaya hidupnya(
Lifestyl ). Gaya hidup ini bersifat unik pada setiap individu dan
mempresentasikan pola-pola perilaku yang akan menjadi dominan di sepanjang
kehidupannya. Gaya hidup ini jarang sekali dapat berubah tanpa adanya
intervensi dari orang lain. Konstelasi keluarga dan urutan kelahiran memberikan
pengaruh yang kuat pada pembentukan gaya hidup ini.
Adler juga memandang manusia
memiliki minat sosial yang bmenjadi barometer bagi mental yang sehat (
Adler,1938,1964 : dalam Thompson, Rudolph,&Henderson,2004). Minat sosial di
konseptualisasikan sebagai suatu bentuk perasaan terhadap dan kooperasi dengan
orang lain, suatu perasaan untuk memiliki dan terlibat dengan orang lain untuk
mencapai tujuan-tujuan umum kemasyarakatan.
2. Sistem
teori
a.
Teori
Adler diklasifikasikan ke dalam perspektif fenomenologis
Meskipun
Adler adalah seorang psikodinamik,namun teori psikoindividualnya dapat
dimasukkan ke dalam perspektif fenomenologis. Karakteristik fenomenologis ini
tampak dari pandangan Adler yang menekankan pentingnya persepsi subyektif
individu terhadap realita. Bagi Adler kerangka acuan internal atau persepsi
subyektif individu lebih penting daripada realitas obyektif. Dalam hal ini
Adler melihat setiap orang adalah individu yang unik dan hanya dengan memahami
persepsi subyektif individu tentang lingkungan, logika pribadi, gaya hidup, dan
tujuan hidupnya maka kita dapat sepenuhnya memahami siapa jati diri individu
tersebut. Inilah esensi psikologi individual Adler. Kita juga dapat memahami
teori konseling Adlerian dari konsep-konsep Adler tentang rasa percaya
diri,konstelasi keluarga, gaya hidup, dan minat sosial. Berikut adalah uraian
tentang konsep-konsep tersebut.
b.
Teori
Adlerian bersifat Holistik
Pendekatan Adlerian didasarkan
pada suatu pandangan holistik tentang
manusia. Kata individual dalam konstruk “ psikologi individual” bukan
mengimplikasikan bahwa pendekatan ini memusatkan perhatian pada individu. Tetapi
memandang individu sebagai satu kesatuan (unity) yang dalam hal ini
diidentikkan dengan kebulatan ( wholeness). Menurut Adler, manusia tidak bisa
di pisahkan atau di bagi-bagi ke dalam bagian-bagian yang diskrit, dan oleh
karenanya kepribadian merupakan suatu kesatuan ( unified) dan dapat dipahami
hanya jika di pandang sebagai satu kebulatan. Satu implikasi dari pandangan ini
adalah bahwa konseli di pandang sebagai suatu bagian integral dari sebuah
sistem sosial. Konselor Adlerian harus memusatkan perhatian pada fraktor-faktor
interpersonal ( bukan intrapersonal) dan situasi sosial konseli.
c.
Perasaan
rendah diri ( inferioritas ) sebagai determinan perilaku / perkembangan
Perasaan
rendah diri ( inferiority) merupakan satu dimensi dari tahun-tahun awal
kehidupan yang diyakini oleh Adler menjadi faktor yang memainkan peran penting
dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Perasaan ini hampir di alami oleh
semua anak. Pada awalnya setiap anak mempersepsi dirinya sebagai entitas yang
begitu kecil dan tak berdaya, khususnya jika dibandingkan dengan orang tua dan
saudara-saudara mereka.
Di
samping perasaan rendah diri, cara-cara yang digunakan oleh anak-anaak
untuk menangani perasaan rendah dirinya
juga menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi perilaku dan perkembangan
dirinya sebagai contoh, anak yang menangani perasaan rendah dirinya dengan cara
melibatkan dirinya dengan orang lain, membentuk kemampuan, dan membuat pilihan
yang kreatif cenderung lebih dapat mencapai perkembangan yang sehat.
Sebaliknya, anak yang manja dan tidak mau berjuang untuk memperoleh kemampuan
diri cenderung sulit untuk mencapai perkembangan yang positif. Mereka ini
menjadi tak berdaya , tergantung, dan mudah menyerah. Jadi dalam konstrruk
Adlerian, perasaan rendah diri bukan merupakan suatu keadaan yang negatif
tetapi justru menjadi motivasi untuk menguasai lingkungan. Kita berusaha
menangani perasaan rendah dengan menemukan cara-cara yang dapat kita gunakan
untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan dalam hidup kita, bukan sebaliknya. Dalam
pandangan Adler stiap manusia memiliki tujuan untuk beralih dari perasaan
inferior menjadi superior.
d.
Ajaran
tentang gaya hidup
Gaya hidup ( life style)
merupakan suatu cara unik yang digunakan oleh setiap individu untuk menangani
perasaan rendah diri dan mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Gaya hidup individu
sebagian dipengaruhi oleh komposisi dan pola interaksi dalam keluarga. Grey (
1998) memandang gaya hidup sebagai suatu yang sangat mendasar dari semua konsep
Adler, dan menggambarkannya sebagai totalitas dari semua sikap dan aspirasi
individu, suatu perjuangan yang mengarahakan individu untuk mencapai tujuan.
Meskipun tujuan tersebut hampir selalu melibatkan superioritas, kompetensi dan
penguasaan, setiap orang memiliki imej ( yang seringkali tidak disadari)
tentang apa yang menjadi tujuannya. Adler menggunakan istilah fictional
finalism untuk menggambarkan tujuan sentral yang diimajinasikan untuk
mengarahkan perilaku. Adler yakin bahwa tujuan ini telah terbentuk dengan kokoh
pada usia antara enam hingga delapan tahun dan akan tetap konstan di sepanjang
kehidupan individu
e.Minat
sosial
Dari
perspektif Adler, perkembangan dapat dijelaskan melalui dinamika psikososial.
Tujuan dan gaya hidup individu akan memberikan pengaruh pada cara penyesuaian
dirinya. Individu yang dapat menyesuaikan diri pada umumnya memiliki logika
pribadi yang merefleksikan minat social, sedangkan individu yang kurang
berhasil dalam menyesuiakan diri cenderung lebih mementingkan tujuan mereka
sendiri dan kurang memperhatikan kepentingan konteks sosialdan kebutuhan orang
lain. Individu dipandang memiliki fithrah sebagai makhluk social, yakni entitas
yang peduli dengan konteks social. Jika individu menyadari bahwa dirinya
menjadi bagian dari komunitas manusia, maka perasaan inferior, alinasi , dan
cemas akan menurun pada gilirannya mereka akan mengembangkan perasaan memiliki
dan mencapai kebahagiaan hidup.






0 komentar:
Posting Komentar