2.1
DEFINISI
Kita telah
memasuki dunia postmodern di mana kebenaran dan realitas sering dipahami
sebagai sudut pandang yang dibatasi oleh konteks sejarah dan bukan sebagai
objektif, fakta-fakta kekal. Modernis lebih percaya pada realitas
independen dari setiap percobaan untuk mengamatinya, orang mencari terapi untuk
masalah ketika mereka telah menyimpang terlalu jauh dari beberapa norma
objektif. Sebaliknya Postmodernis, percaya pada realitas subyektif yang tidak ada
proses observasi independen.
Postmodern adalah suatu
kondisi dimana terjadi penolakan / ketidak percayaan terhadap segala hal yang
mengarah kepada kebenaran tunggal, keuniversalan, keobjektifan (sesuatu apapun
yang hendak dijadikan dasar untuk menilai benar – salahnya sebuah konsep /
pengetahuan) atas suatu objek dan realita yang terjadi.
Postmodern mengadopsi narasi,
pandangan konstruksionis sosial menyoroti bagaimana kekuasaan, pengetahuan, dan
“kebenaran” yang dinegosiasikan dalam keluarga dan sosial lainnya dan konteks
budaya (Freedman & Combs, 1996). Terapi ini, dalam bagian, sebuah badan
reestablishment pribadi dari penindasan masalah eksternal dan kisah-kisah
dominan yang lebih besar.
Postmodern berlangsung singkat
(Brief), umumnya antara empat sampai lima sesi saja. Berfokus pada pemecahan
masalah (solusi) yang menekankan pada sumberdaya atau kompetensi dan kekuatan –
kekuatan konseli, bukan berfokus pada penyebab atau problem. Menekankan pada
pandangan bahwa konseli adalah individu yang unik dan subjektif serta bahasa atau naratif
yang dikonstruksikan sendiri oleh konseli, bukan menekankan pada realitas
“objektif” realitas konsensual (realitas sebagaimana membangun bahasa,
memelihara dan mengubah masing – masing tata pandang (worldview) individu. Dalam pemikiran postmodern, menggunakan bahasa dalam
cerita-cerita, untuk menceritakan kisah-kisah, dan masing-masing kisah-kisah
ini benar bagi orang yang mengatakannya. Setiap orang yang terlibat dalam suatu
situasi memiliki perspektif tentang “realitas”.
2.2
PERSPEKTIF HISTORIS
PENDIRI PENDEKATAN MODERN
TERAPI
INSOO KIM BERG :
Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee.
Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution
Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan,
Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya
adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja
dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan
Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER : salah
satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku
solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988),
meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia
mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai
konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan
teori dan solusi-solusi praktek.
MICHAEL WHITE :
membantu pendirian bersama David Epston, ilmu pengobatan terapi naratif, bertempat
di Dulwich di Adelaide, Australia. Cinta pada keluarga dan teman-teman,
berenang, terbang dengan pesawat kecil, dan bersepeda. Mengantarkan banyak
Bukunya: Terapi Naratif untuk tujuan Mengobati (1990), Karangan kehidupan:
wawancara and ujian tulis (1995), dan Narratif untuk terapi kehidupan (1997).
DAVID EPSTON :
Sebagai pembantu direktur pengembangan terapi Naratif dari pusat terapi
keluarga di Auckland, Slandia baru, dan dia sebagai penulis dan guru dari
ide-ide naratif, sebagai pelancong internasional, dosen pada pusat pelatihan di
Australia, Eropah dan Amerika Utara. Profesional terhadap ancaman kehidupan
anak-anak berpenyakit Asma, berjuang untuk kelompok wanita penyandang
Anoreksia, dan melibatkan ayah yang dilepas oleh anak-anaknya. Penulis buku
Makna Akhir Terapi Naratif (1990), Terapi Naratif untuk Anak dan Keluarga
(1997). Suka bersepeda dan mencintai istrinya Anne di rumah pengasingan di
sebuah pulau Waiheke.
2.3
POKOK-POKOK TEORI
POSTMODERN UMUMNYA MENGAC PADA 3
BIDANG ( Grenz, 1996 ) :
1.
Era historical
(industry,
tekn. informasi)
2.
Gerakan
pada bidang seni (arsitektur, teater, literature, dunia lukis, performansi dsb)
3.
Kritik
– kritik dalam bidang akademik terutama ilmu – ilmu sosial dan filsafat
PANDANGAN
TENTANG SIFAT DASAR MANUSIA
1.
Manusia hidup dengan
beranekaragam realitas (bahasa, cerita, ideologi) Pluralistik
2.
Tiada kebenaran tunggal
3.
Kebenaran bersifa
kontekstual, subjektif
4.
Manusia berbekal metode
ilmiah yang tepat dapat menemukan pengetahuan yang terpercaya (realible) dan
sahih (valid) tentang klien dan masalah-masalahnya
Pada dasarnya, SFBC didasarkan pada
pandangan yang positif dan optimistik tentang hakikat manusia (Corey, 2009;
Gladding, 2009).
1. Manusia adalah
makhluk yang sehat dan kompeten. SFBC merupakan pendekatan konseling yang nonpatologis
yang menekankan pentingnya kompetensi manusia daripada
kekurangmampuan, dan kekuatan daripada kelemahannya.
2. Manusia mampu
membangun solusi yang dapat meningkatkan kehidupannya.
3. Manusia
memiliki kemampuan menyelesaikan tantangan dalam hidupnya.
4. Bagaimanapun
pengaruh lingkungan terhadap manusia, konselor meyakin bahwa saat dalam
layanan konseling kliennya bahwa mampu menkonstruksi solusi
5. terhadap
masalah yang dihadapinya.






0 komentar:
Posting Komentar