II. 1 DEFINISI DAN KONSEP KONSELING
BERMAIN
Dalam melakukan komunikasi dengan
anak, kita seringkali kesulitan. Hal ini disebabkan anak tidak memiliki
kemampuan yang cukup dalam menjelaskan permasalahannya. Seringnya, anak
justru akan terlihat ketakutan atau memperlihatkan penolakan jika orang dewasa
mendekatinya dengan menggunakan bahasa verbal.
Salah satu waktu anak bisa
berekspresi adalah saat mereka bermain. Sebagaiman diungkap oleh Muro
& Kottman (1995) bahwa bermain merupakan bentuk self expression bawaan
anak. Bermain terjadi secara alamiah pada anak dan merupakan suatu
ekspresi spontan dari emosi dan pikiran-pikirannya. Konselor tentu harus
memanfaatkan situasi ini untuk mengeksplor emosi dan pikiran anak.
Freud memandang bermain ekuivalen dengan
bahasa orang dewasa. Sementara M. Klein (Muro & Kottman,1995) memandang
lain. Dia berpendapat bahwa aktivitas bermain dapat diinterpretasi
langsung oleh konselor secara bebas (free association).
Permainan anak berkembang sesuai
dengan usianya. Misalnya bermain dengan aspek sensory motor merupakan
dua jenis bermain yang dilakukan oleh anak pada usia tiga tahun pertama ;
sedangkan bermain simbolik mencapai puncaknya pada usia empat dan lima
tahun yang kemudian diikuti dengan semakin meningkatnya aktivitas permainan
dengan aturan bermain konstruktif. Kecenderungan-kecenderungan perkembangan
bermain tersebut memberikan suatu indikasi tentang bahan, program, dan
aktivitas bermain yang perlu disediakan bagi keperluan pendidikan dan bimbingan
konseling anak.
II. 2 POKOK-POKOK TEORI
·
BERMAIN HARUS SESUAI DENGAN TAHAPAN USIA ANAK
Pendidik seharusnya memiliki pemahaman dan pengetahuan
tentang bermain agar dapat mendukung dan menetapkan kegiatan bermain yang cocok
untuk anak. Anak dengan tingkat usia yang berbeda memiliki minat bermain yang berbeda.
Tahapan tersebut dapat diprediksi karena telah dilakukan penelitian yang
panjang pada setiap tahapan usia anak. Tahapan tersebut secara umum dijabarkan
sebagai berikut ;
1. Bayi – Toddler
Bermain lebih fokus pada
keterampilan motorik, pemaksimalan panca indera, kegiatan eksplorasi objek, banyak
melakukan gerakan sederhana, gerakan dilakukan tidak bertujuan dan dilakukan
berulang-ulang, tidak/belum ada komunikasi, melakukan aktivitas yang sama namun
tidak berhubungan dgn anak lain, konsentrasi bermain hanya dengan mainannya
sendiri, dan belum mengenal konsep peraturan.
2. Anak-anak awal – akhir
Pada usia ini anak sudah mulai
menunjukkan minat untuk bermain dengan anak lain, sering saling bertukar
mainan, sama-sama belajar dengan anak lain untuk membuat peraturan dan bermain
dengan peraturan, belajar untuk bekerja sama dalam satu aktivitas, sudah mampu
membangun dan menciptakan sesuatu dengan benda, tujuan bermain adalah untuk
memperoleh kepuasan pribadi, jika melakukan kegiatan bermain sambil bertanding,
anak belum ada keinginan untuk menang, dan anak belajar untuk berhitung,
membaca, menulis (kemampuan dasar akademik).
3. Sekolah dasar
Pada tahap bermain ini, anak
sangat tertarik untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan menciptakan mainannya
sendiri (berkreasi), mulai menyukai kegiatan bermain yang menggunakan angka dan
kode-kode rahasia, mulai menunjukkan siapa dirinya, keahliannya, talenta dan
kemampuannya, sudah mulai memahami makna kata, huruf dan angka, sudah mampu
membangun konsep kerjasama dan sudah mengenal rasa bersaing.
4. Memasuki remaja awal
Tahapan bermain memasuki remaja
awal yaitu banyak bermain dengan permainan teratur dan terstruktur, bermain
dengan peraturan (sport), memiliki motivaasi bermain untuk memperoleh
kemenangan (menang berarti mampu mengikuti peraturan), kegiatan terfokus/minat
pada kelompok, dan anak belajar untuk memahami lingkungan social.






0 komentar:
Posting Komentar